Rabu, 18 Desember 2013

Bersyukur Bahagia

- catatan lama, ga penting pula, tapi minta diposting juga-

Ini catatan yang isinya cuma percakapan ringan tentang "bahagia", antara Saya dan Pantona.
Saya : Heh. Kamu ga prnah nulis lagi.?.
Pantona : Nanti malam rencananya. Kamu mau temenin? Hahaa.
Saya : Boleh, kalau mau bagi ide. Inspirasiku hilang ideku melayang. (⌣́_⌣̀). Tulisan-tulisannya cuma smpe satu paragraf, trus stuck.
Pantona : Hahaha lagi galau enak nulis sebenarnya. Ane sih gitu.
Gw : Asli. Banget. Kata2'a tu ngaliir aja.
Pantona : Tak apa, perpisahan cuma cara Tuhan untuk mempertemukan kita dengan kebahagian yang lain nya. Namanya juga hidup.
Saya : Daleeem. Tapi kalau kita yang memutuskan untuk berpisah karena merasa dijemput oleh kebahagiaan yang lain gimana.?.
Pantona : Ya lebih bagus lagi. Tapi semua itu ada alasann. Dan kita akan tau alasan kenapa kita berpisah sekarang pada suatu saat nanti. Di saat kita sudah berjalan dengan jalan yang lain.
Saya : Nyari bahagia tu kadang capek yaa. Suka pindah-pindah dianya. Atau kita yang ga pernah puas sama bahagia yang udah ada?
Pantona : Hihihih pertanyaan nya dalam. Aku juga gitu. Dan nggak tau kenapa. Tapi itu manusiawi sih.
Saya : Fiuuuh... Manusiawi yang kadang menurut gw sebagai manusia malah mirip burung.
Pantona : hahahahahahha.

Percakapan yg terlalu ringan, tapi "padat". Kadang pelajaran2-pelajaran penting tentang hidup justru didapat dari hal-hal sepele tapi "berisi". Yaaa misalnya bahagia. Bahagia ya gitu, kadang suka pindah-pindah dari satu hal ke hal lain, dari orang yang satu ke orang yang lain (menurut kita). Terus gimana.? Sebagai manusia yg sifat dasarnya pengen tau dan ga prnah puas, mencari kebahagiaan dengan pindah dari satu hal ke hal yg lain, bisa dianggap manusiawi donk.?.
Iyaa, itu hal yang manusiawi. Nah pertanyaan'a, sampe kapan kita sebagai manusia mempergunakan hak ke-manusiawi'an kita itu hanya untuk mengejar dan mencari bahagia.? Ga pernah puas dgn "bahagia" yg udah ada.? Merasa "bahagia" yg disana lebih pantas buat kita coba. Ketika ternyata "bahagia" yang kita korbankan ini lebih baik dari yang baru kita coba, biasanya kita menyesal. Lalu, mau apa.? Sedang peraturannya, bahagia yang sudah dibuang, tak boleh dipungut lagi. Hayoo.? Bingung kan.? Kalau kata nenek kakek jaman dulu, gara2 nunggu hujan yang ga pasti, air di belanga di tumpahin. Ternyata malah ga hujan-hujan, langitnya mendung doank. Air udah dibuang percuma, belanga sudah kosong, hujan yang ditunggu pun datangnya gatau kapan.

Jawabannya ya cuma satu, Bersyukur..
Ketika kita sudah bisa bersyukur, bahagia kecil pun jadi besar. Ga bahagia pun, jadi bahagia. Tak perlu lah selalu melihat ke atas, sekali2 kita juga perlu, bahkan sangat perlu melihat ke bawah, supaya rasa syukur kita semakin besar dan kemampuan bersyukur kita semakin hebat.

Ada kutipan gini (gatau punya siapa) "orang yang bahagia itu, bukan orang2 yang memiliki segalanya, tapi orang2 yang tidak pernah sibuk membanding2kan apa yang mereka miliki dengan orang lain". Nah intinya tetap, BERSYUKUR. Jadi, bahagia ga bahagia nya kita, cukup ga cukup nya bahagia yang kita punya, tergantung dari bagaimana cara kita menikmatinya (red.BERSYUKUR).

Home, April 2013.

Perempuan itu, Aku.

- catatan lama yang tiba-tiba muncul dan minta diposting-
Pukul 01.03 dini hari.
Aku baru saja hendak memicingkan mata saat tiba-tiba saja teringat tentang sebuah postingan di salah satu blog favoritku yang sejak tadi sore ingin kubaca. Kuketik alamat blog itu di ponselku, lalu meng -klik- tulisan dengan judul "Perempuan Terjatuh". Kubaca tulisan itu dengan sangat pelan sampai pada bagian akhurnya Aku hanya bisa menarik napas panjang dan menulis catatan ini

"Tulisan itu menceritakan tentang seorang perempuan yang ingin mengejar mimpi, dengan susah payah, menderita, sampai ia lupa bahwa ia harus bahagia sekarang. Dan entah kenapa, Aku tiba-tiba merasa menjadi perempuan yang ada dalam cerita itu. Perempuan yang terjatuh itu, Aku. Perempuan yang tidak lagi bisa mendengar nyanyian hatinya sendiri, perempuan yang lupa bahagia.

Betapa Aku selama ini terlalu sibuk memikirkan mimpi-mimpi di masa depan, cita-cita, keinginan-keinginanku ketika nanti, nanti dan nanti. Aku lupa jika Aku ingin bahagia nanti, Aku harus bahagia dengan hidupku dari sekarang. Aku sudah terlalu memaksa kakiku untuk berjalan, bahkan berlari saat dia masih belum siap untuk itu. Aku mengilustrasikan masa depan dengan terlalu sempurna dan akhirnya menjadi gila, lupa menikmati apa yang saat ini Aku punya.

Sekarang, tak lagi. Ya, Aku ingin diam. Aku ingin diam mendengarkan suara lembut dari dalam diriku sendiri, dan menari.

Home, May, 21th, 2013.

Jumat, 28 Juni 2013

Sepenggal Cerita



Dunia ini dipenuhi dengan hal-hal indah bukan..? Lihatlah fajar dengan segala kesejukannya, langit biru dengan gumpalan putih kapasnya yang selalu membuat ceria, serta Senja dengan semburat jingga yang mendamaikan. Segala keindahan itu menjadi semakin sempurna ketika ia muncul dalam wujud seorang teman. 

Dan saat ini, Saya akan bercerita tentang seorang lelaki yang hanya pernah Saya temui sekali, yang selanjutnya menjadi teman. Sebut saja namanya AM (memang nama sebenarnya) :D. AM bukan ToBe, bukan pula Ante Meridien, bukan itu. AM adalah dia, si lelaki yang Saya anugerahkan gelar “tidak biasa”. Kenapa Saya menyebutnya tidak biasa.? Karena cukup tiga jam baginya untuk membuat Saya menambahkan namanya dalam daftar “orang yang penting untuk dikenal”, dan penting juga untuk ditulis sepenggal cerita tentangnya.  

Saya berkenalan dengan si lelaki ini -lebih tepatnya dikenalkan- di salah satu warung kopi (Sejenis kafe, tapi disini semua menyebutnya warung kopi)  di daerah tempat Saya tinggal. Dia salah satu sahabat dari “sahabat” Saya. “Alfazil”, katanya waktu itu. Hanya itu, tanpa senyum, tanpa pertanyaan basa-basi lain seperti yang biasa Saya dapatkan saat berkenalan dengan orang baru (setidaknya begitu yang Saya ingat).  “Anak yang pendiam”, Saya menilai dalam hati dan dengan sok hebatnya mengambil kesimpulan “kurang cocok berteman dengan Saya”. Ya, Saya selalu bermasalah dengan “anak yang pendiam”. Bukan karena Saya tidak menyukai sifat “anak yang pendiam”, tapi lebih karena Saya bingung menghadapi mereka. Mereka jarang bicara, dan Saya bukan pembaca pikiran yang baik, maka lengkaplah sudah penderitaannya. 

Well, kita kembali ke “si lelaki yang tidak biasa” ini. Setelah 10 menit berjalan, kemudian setengah jam, dua jam, sampai akhirnya kurang lebih tiga jam Saya duduk di meja yang sama dengannya, segala kesimpulan dan benteng yang Saya bangun dari awal tiba-tiba runtuh, karena dia “BUKAN anak yang pendiam”. Dia memiliki senyum yang “bersahabat”. Dia lucu, hangat dan cerdas..!! Lelaki ini menjadi pendukung salah satu teori yang sangat Saya percaya, bahwa “salah satu ciri orang cerdas itu adalah lucu”. Jadi rasanya tak berlebihan jika Saya menyebutnya begitu. Dia periang, menyenangkan, cara bicaranya ringan dan mengasikkan. Ah, Tiba-tiba Saya mengalami semacam euforia (jika Saya boleh menyebutnya demikian) karena bertemu dengan orang yang “luar biasa”. Saya selalu exited bertemu dengan orang-orang yang ramah, lucu, periang, pintar, dan .... segala ciri extrovert lainnya. Rasanya seperti bertemu dengan “orang-orang yang diciptakan untuk mengisi dunia Saya”. Berbicara dengannya seperti sedang berbicara dengan sahabat lama, takkan membuatmu bosan. Membawa lelaki ini ke duniamu layaknya membawa seorang teman yang sekaligus akan menjadi saudara. :) 

Dan setelah tiga jam yang luar biasa itu, segalanya terpenggal. Dia harus berangkat menuju sebuah kota, melanjutkan cita-cita. Pertemanan kami selanjutnya hanya melalui dunia maya, tidak lebih. Tapi yang melekat di pikaran Saya, dia tetap lelaki yang sama dengan yang Saya kenal selama tiga jam itu. Lelaki yang tidak biasa.

Sekarang, kalau nama itu disebut atau Saya baca, yang pertama kali terlintas adalah “senyum bersahabat”nya. Pertemuan kami terlalu singkat, tapi rasanya cukup bagi Saya untuk menganugerahkan gelar “lelaki yang tidak biasa” kepadanya. Dan lelaki ini, entah bagaimana akan menjadi orang besar, Saya yakin itu dari hati Saya. Salah satu orang yang di tangannya segala hal buruk berubah baik dan hal baik akan menjadi semakin baik. Semoga saja, perempuan yang dinikahinya kelak  juga memiliki keyakinan seperti Saya, bahwa ia menikahi laki-laki yang tidak biasa.

Ada orang-orang yang mampu membuatmu merasa dunia ini adalah rumah, dan setiap jiwa didalamnya adalah keluarga, bahkan saat kau baru mengenalnya.  Dan teman Saya ini, salah satunya. 
Alfazil Muhammad.