Minggu, 18 Mei 2014

Maaf, Kita Tak Sama


Alkisah, di sebuah negeri yang indah terdapat sebuah toko yang menjual barang-barang unik. Setiap jenis barang yang dijual di toko itu hanya ada satu, dikirim dari negeri-negeri di seluruh penjuru dunia ; bumi dan luar angkasa. Barang yang dijual di toko tersebut bukan barang sembarangan, dan tidak semua barang unik bisa masuk untuk dijual disana. Hanya barang-barang yang lulus sebuah seleksi yang panjanglah yang bisa dipajang disana dan dijual. Dan salah satu syarat utamanya adalah “hanya ada satu-satunya”. Selain karena menjual barang unik yang hanya ada satu-satunya, ada sesuatu lain yang berbeda dengan toko ini, yaitu barang-barang unik yang dijual di sana bisa bicara.! Ya, mereka mampu berkomunikasi satu sama lain, ajaib bukan?

Ada sebuah kejadian lucu saat barang-barang itu sampai di toko tersebut untuk pertama kalinya. Sebagai pendatang baru, masing-masing mereka berusaha memperlihatkan sikap “akulah yang terbaik” dan enggan berbicara dengan barang unik lain. Mereka juga saling merasa iri satu sama lain bahkan membenci. Contohnya sebuah Teko Emas dari Egypt yang selalu memasang tampang galak karena ia merasa semua barang disana menertawakan bentuk anehnya yang tidak memiliki pegangan seperti teko pada umumnya. Atau Piring Batu Merah dari Mars yang selalu menatap iri pada Piring Keramik dari Cina.  Semua itu terus terjadi sampai si pemilik toko meletakkan barang-barang tersebut di meja atau rak pajang masing-masing dan menuliskan sesuatu lalu menempelkannya di jendela toko. Di kertas itu bertuliskan “Menjual barang unik satu-satunya di dunia”. Melihat tulisan itu, barang-barang unik itu pun tertegun dan menyadari satu hal, untuk apa mereka terus merasa iri hati dan membenci karena mereka berbeda? padahal mereka semua adalah pilihan dan satu-satunya di dunia. Sekali lagi, SATU-SATUNYA. Pengakuan apalagi yang mereka butuhkan untuk membuktikan bahwa masing2 mereka adalah yang terbaik? Sejak saat itu, semua barang unik di toko tersebut akhirnya saling bersahabat satu sama lain. Tidak ada lagi iri, tidak ada benci. Semuanya tinggal di toko tersebut dengan perasaan bahagia.

Tapi, ada sesuatu yang kerapkali membuat barang-barang unik itu bersedih, yaitu jika ada salah satu dari mereka terjatuh dari rak atau mejanya lalu kemudian lecet, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Atau jika tiba-tiba sang pemilik lupa membersihkan dan barang-barang itu terlihat berdebu, mereka hanya bisa memandang satu sama lain dengan muka murung dan lagi, tidak bisa berbuat apa-apa. Ya, mereka tidak bisa bergerak ; tidak menyentuh, merangkul atau sekedar membersihkan debu yang menempel di tubuh temannya. Menyadari hal tersebut membuat mereka semakin sedih. Namun begitulah, setiap hal punya kekurangan bukan? Untunglah sang pemilik toko sangat rajin merawat mereka. Setiap hari ia membersihkan barang-barang tersebut dari debu, memajangkan barang-barang tersebut secara bergantian di rak depan agar semua barang dapat bagian dipajang. Barang-barang itu  juga dipoles dengan berbagai macam ramuan agar terlihat selalu baru dan semakin indah.

Dan layaknya sesuatu yang akan dijual, setiap barang unik di toko tersebut punya nilai jual masing-masing, tergantung pada kualitas masing-masing barang. Tidak ada yang saling mengejek atau membandingkan nilai jual. Hal itu tidak boleh dan tidak bisa,karena barang-barang tersebut tidak bisa dibandingkan, sebabnya sekali lagi, mereka hanya ada satu-satunya di dunia. Akhirnya, hiduplah barang-barang itu happily ever after (ga nyambung).
***
Melihat dari cerita di atas, sadarkah kita akan suatu hal? Kadang kita sering bertingkah seperti barang-barang unik di toko tersebut. Saling iri dengan perbedaan orang lain, sering membandingkan diri kita dengan orang lain, merasa rendah diri dengan kita yang berbeda, bahkan yang paling buruk adalah iri dan membenci orang tersebut. Pernahkah kita, sebentar saja merenung dan menyadari bahwa kita “satu-satunya” di dunia ini? Diciptakan Allah dengan sesuatu yang orang lain tidak punya, begitu juga sebaliknya. Saudara sekandung, bahkan kembar sekalipun tetap punya sesuatu yang membedakan mereka. Lalu kenapa kita masih saja risau dengan menanyakan “kenapa aku berbeda”? atau “kok dia gitu ya, kok aku gini”, “kok kektu lu? ncik li ta” atau ungkapan-ungkapan lain dengan maksud sama ; aku ga suka berbeda. Sebenarnya, apa bagusnya sih menjadi sama? Bukankah pelangi itu indah karena warnanya yang berbeda?. Ah, manusia.

Bukankah kita lebih baik bersyukur lalu bersahabat dengan semua perbedaan yang ada? Menerima bahwa ketidaksamaan inilah yang akhirnya membuat kita semakin indah. Dan keindahan itu semakin nyata ketika kita tidak hanya diam tak berbuat apa-apa seperti barang-barang unik ajaib itu saat melihat ada yang “salah” dengan orang di sekitar kita. Tidak juga hanya “menerima apa adanya” namun selalu dengan senang hati mengingatkan, memperbaiki dan membuatnya menjadi lebih baik. Seorang sahabatku menuliskan tentang “menerima apa adanya” dengan sangat indah, “Aku tak bisa menerimamu apa adanya jika artinya membiarkanmu terus ada dalam ketidakbaikan selama ini. Justru dengan ketahuanku akan ketidakbaikanmu dan padamu aku masih mau, adalah pembuktian bahwa benar aku padamu. Kupikir itu cukup, untuk sedikit saja membuatmu mau berubah dari apa yang kau sendiri tahu itu salah. Aku ingin adaku membaikkanmu, sebab karenamulah akupun membaik”. –Beni Pantona-

Akhir kata (kaya ceramah ya) Itulah kita, pribadi-pribadi unik yang hanya ada satu-satunya di dunia. Masing-masing kita punya nilai jual (red.kelebihan dan kekurangan) sendiri bukan?. Tidak boleh ada yang mencoba membandingkan (dalam bentuk negatif) antara yang satu dengan yang lain, karena kita sudah dengan bentuk dan ciri khas masing-masing. Tidak ada yang aneh dengan menjadi berbeda, karena di negeri ini, yang aneh itu adalah ketika kita berusaha menjadi sama.

Selamat meng-unik-kan diri. ^_^
Banda Aceh, 18 Mei 2014.  

2 komentar:

  1. trharu kak.... :'( senang bhagia ada dtengah kalian, serasa ikatan batin keluarga ini telah ada sejak brtahun2 yg lalu..... Lopeyu kak Ica, lopeyu All....

    BalasHapus
  2. Setiap kita adalah juara, juara dalam bidangnya masing-masing itupun tergantung begaimana kita melihatnya. :)

    BalasHapus