Alkisah, di
sebuah negeri yang indah terdapat sebuah toko yang menjual barang-barang unik.
Setiap jenis barang yang dijual di toko itu hanya ada satu, dikirim dari
negeri-negeri di seluruh penjuru dunia ; bumi dan luar angkasa. Barang yang dijual
di toko tersebut bukan barang sembarangan, dan tidak semua barang unik bisa
masuk untuk dijual disana. Hanya barang-barang yang lulus sebuah seleksi yang
panjanglah yang bisa dipajang disana dan dijual. Dan salah satu syarat utamanya
adalah “hanya ada satu-satunya”. Selain karena menjual barang unik yang hanya
ada satu-satunya, ada sesuatu lain yang berbeda dengan toko ini, yaitu
barang-barang unik yang dijual di sana bisa bicara.! Ya, mereka mampu
berkomunikasi satu sama lain, ajaib bukan?
Ada sebuah
kejadian lucu saat barang-barang itu sampai di toko tersebut untuk pertama
kalinya. Sebagai pendatang baru, masing-masing mereka berusaha memperlihatkan
sikap “akulah yang terbaik” dan enggan berbicara dengan barang unik lain. Mereka
juga saling merasa iri satu sama lain bahkan membenci. Contohnya sebuah Teko
Emas dari Egypt yang selalu memasang tampang galak karena ia merasa semua barang
disana menertawakan bentuk anehnya yang tidak memiliki pegangan seperti teko
pada umumnya. Atau Piring Batu Merah dari Mars yang selalu menatap iri pada
Piring Keramik dari Cina. Semua itu
terus terjadi sampai si pemilik toko meletakkan barang-barang tersebut di meja
atau rak pajang masing-masing dan menuliskan sesuatu lalu menempelkannya di
jendela toko. Di kertas itu bertuliskan “Menjual barang unik satu-satunya di
dunia”. Melihat tulisan itu, barang-barang unik itu pun tertegun dan menyadari
satu hal, untuk apa mereka terus merasa iri hati dan membenci karena mereka
berbeda? padahal mereka semua adalah pilihan dan satu-satunya di dunia. Sekali
lagi, SATU-SATUNYA. Pengakuan apalagi yang mereka butuhkan untuk membuktikan
bahwa masing2 mereka adalah yang terbaik? Sejak saat itu, semua barang unik di
toko tersebut akhirnya saling bersahabat satu sama lain. Tidak ada lagi iri,
tidak ada benci. Semuanya tinggal di toko tersebut dengan perasaan bahagia.
Tapi, ada sesuatu
yang kerapkali membuat barang-barang unik itu bersedih, yaitu jika ada salah
satu dari mereka terjatuh dari rak atau mejanya lalu kemudian lecet, mereka
tidak bisa berbuat apa-apa. Atau jika tiba-tiba sang pemilik lupa membersihkan
dan barang-barang itu terlihat berdebu, mereka hanya bisa memandang satu sama
lain dengan muka murung dan lagi, tidak bisa berbuat apa-apa. Ya, mereka tidak
bisa bergerak ; tidak menyentuh, merangkul atau sekedar membersihkan debu yang
menempel di tubuh temannya. Menyadari hal tersebut membuat mereka semakin
sedih. Namun begitulah, setiap hal punya kekurangan bukan? Untunglah sang pemilik
toko sangat rajin merawat mereka. Setiap hari ia membersihkan barang-barang
tersebut dari debu, memajangkan barang-barang tersebut secara bergantian di rak
depan agar semua barang dapat bagian dipajang. Barang-barang itu juga dipoles dengan berbagai macam ramuan agar
terlihat selalu baru dan semakin indah.
Dan layaknya
sesuatu yang akan dijual, setiap barang unik di toko tersebut punya nilai jual
masing-masing, tergantung pada kualitas masing-masing barang. Tidak ada yang
saling mengejek atau membandingkan nilai jual. Hal itu tidak boleh dan tidak
bisa,karena barang-barang tersebut tidak bisa dibandingkan, sebabnya sekali
lagi, mereka hanya ada satu-satunya di
dunia. Akhirnya, hiduplah barang-barang itu happily ever after (ga
nyambung).
***
Melihat dari
cerita di atas, sadarkah kita akan suatu hal? Kadang kita sering bertingkah
seperti barang-barang unik di toko tersebut. Saling iri dengan perbedaan orang
lain, sering membandingkan diri kita dengan orang lain, merasa rendah diri
dengan kita yang berbeda, bahkan yang paling buruk adalah iri dan membenci
orang tersebut. Pernahkah kita, sebentar saja merenung dan menyadari bahwa kita
“satu-satunya” di dunia ini? Diciptakan Allah dengan sesuatu yang orang lain
tidak punya, begitu juga sebaliknya. Saudara sekandung, bahkan kembar sekalipun
tetap punya sesuatu yang membedakan mereka. Lalu kenapa kita masih saja risau
dengan menanyakan “kenapa aku berbeda”? atau “kok dia gitu ya, kok aku
gini”, “kok kektu lu? ncik li ta”
atau ungkapan-ungkapan lain dengan maksud sama ; aku ga suka berbeda. Sebenarnya, apa bagusnya sih menjadi sama? Bukankah pelangi itu indah karena warnanya yang
berbeda?. Ah, manusia.
Bukankah kita
lebih baik bersyukur lalu bersahabat dengan semua perbedaan yang ada? Menerima bahwa
ketidaksamaan inilah yang akhirnya membuat kita semakin indah. Dan keindahan
itu semakin nyata ketika kita tidak hanya diam tak berbuat apa-apa seperti
barang-barang unik ajaib itu saat melihat ada yang “salah” dengan orang di
sekitar kita. Tidak juga hanya “menerima apa adanya” namun selalu dengan senang
hati mengingatkan, memperbaiki dan membuatnya menjadi lebih baik. Seorang sahabatku
menuliskan tentang “menerima apa adanya” dengan sangat indah, “Aku tak bisa menerimamu apa adanya jika
artinya membiarkanmu terus ada dalam ketidakbaikan selama ini. Justru dengan
ketahuanku akan ketidakbaikanmu dan padamu aku masih mau, adalah pembuktian
bahwa benar aku padamu. Kupikir itu cukup, untuk sedikit saja membuatmu mau
berubah dari apa yang kau sendiri tahu itu salah. Aku ingin adaku membaikkanmu,
sebab karenamulah akupun membaik”. –Beni Pantona-
Akhir kata (kaya
ceramah ya) Itulah kita, pribadi-pribadi unik yang hanya ada satu-satunya di
dunia. Masing-masing kita punya nilai jual (red.kelebihan dan kekurangan)
sendiri bukan?. Tidak boleh ada yang mencoba membandingkan (dalam bentuk
negatif) antara yang satu dengan yang lain, karena kita sudah dengan bentuk dan
ciri khas masing-masing. Tidak ada yang aneh dengan menjadi berbeda, karena di
negeri ini, yang aneh itu adalah ketika kita berusaha menjadi sama.
Selamat meng-unik-kan
diri. ^_^
Banda Aceh, 18
Mei 2014.
trharu kak.... :'( senang bhagia ada dtengah kalian, serasa ikatan batin keluarga ini telah ada sejak brtahun2 yg lalu..... Lopeyu kak Ica, lopeyu All....
BalasHapusSetiap kita adalah juara, juara dalam bidangnya masing-masing itupun tergantung begaimana kita melihatnya. :)
BalasHapus