Jumat, 28 Juni 2013

Sepenggal Cerita



Dunia ini dipenuhi dengan hal-hal indah bukan..? Lihatlah fajar dengan segala kesejukannya, langit biru dengan gumpalan putih kapasnya yang selalu membuat ceria, serta Senja dengan semburat jingga yang mendamaikan. Segala keindahan itu menjadi semakin sempurna ketika ia muncul dalam wujud seorang teman. 

Dan saat ini, Saya akan bercerita tentang seorang lelaki yang hanya pernah Saya temui sekali, yang selanjutnya menjadi teman. Sebut saja namanya AM (memang nama sebenarnya) :D. AM bukan ToBe, bukan pula Ante Meridien, bukan itu. AM adalah dia, si lelaki yang Saya anugerahkan gelar “tidak biasa”. Kenapa Saya menyebutnya tidak biasa.? Karena cukup tiga jam baginya untuk membuat Saya menambahkan namanya dalam daftar “orang yang penting untuk dikenal”, dan penting juga untuk ditulis sepenggal cerita tentangnya.  

Saya berkenalan dengan si lelaki ini -lebih tepatnya dikenalkan- di salah satu warung kopi (Sejenis kafe, tapi disini semua menyebutnya warung kopi)  di daerah tempat Saya tinggal. Dia salah satu sahabat dari “sahabat” Saya. “Alfazil”, katanya waktu itu. Hanya itu, tanpa senyum, tanpa pertanyaan basa-basi lain seperti yang biasa Saya dapatkan saat berkenalan dengan orang baru (setidaknya begitu yang Saya ingat).  “Anak yang pendiam”, Saya menilai dalam hati dan dengan sok hebatnya mengambil kesimpulan “kurang cocok berteman dengan Saya”. Ya, Saya selalu bermasalah dengan “anak yang pendiam”. Bukan karena Saya tidak menyukai sifat “anak yang pendiam”, tapi lebih karena Saya bingung menghadapi mereka. Mereka jarang bicara, dan Saya bukan pembaca pikiran yang baik, maka lengkaplah sudah penderitaannya. 

Well, kita kembali ke “si lelaki yang tidak biasa” ini. Setelah 10 menit berjalan, kemudian setengah jam, dua jam, sampai akhirnya kurang lebih tiga jam Saya duduk di meja yang sama dengannya, segala kesimpulan dan benteng yang Saya bangun dari awal tiba-tiba runtuh, karena dia “BUKAN anak yang pendiam”. Dia memiliki senyum yang “bersahabat”. Dia lucu, hangat dan cerdas..!! Lelaki ini menjadi pendukung salah satu teori yang sangat Saya percaya, bahwa “salah satu ciri orang cerdas itu adalah lucu”. Jadi rasanya tak berlebihan jika Saya menyebutnya begitu. Dia periang, menyenangkan, cara bicaranya ringan dan mengasikkan. Ah, Tiba-tiba Saya mengalami semacam euforia (jika Saya boleh menyebutnya demikian) karena bertemu dengan orang yang “luar biasa”. Saya selalu exited bertemu dengan orang-orang yang ramah, lucu, periang, pintar, dan .... segala ciri extrovert lainnya. Rasanya seperti bertemu dengan “orang-orang yang diciptakan untuk mengisi dunia Saya”. Berbicara dengannya seperti sedang berbicara dengan sahabat lama, takkan membuatmu bosan. Membawa lelaki ini ke duniamu layaknya membawa seorang teman yang sekaligus akan menjadi saudara. :) 

Dan setelah tiga jam yang luar biasa itu, segalanya terpenggal. Dia harus berangkat menuju sebuah kota, melanjutkan cita-cita. Pertemanan kami selanjutnya hanya melalui dunia maya, tidak lebih. Tapi yang melekat di pikaran Saya, dia tetap lelaki yang sama dengan yang Saya kenal selama tiga jam itu. Lelaki yang tidak biasa.

Sekarang, kalau nama itu disebut atau Saya baca, yang pertama kali terlintas adalah “senyum bersahabat”nya. Pertemuan kami terlalu singkat, tapi rasanya cukup bagi Saya untuk menganugerahkan gelar “lelaki yang tidak biasa” kepadanya. Dan lelaki ini, entah bagaimana akan menjadi orang besar, Saya yakin itu dari hati Saya. Salah satu orang yang di tangannya segala hal buruk berubah baik dan hal baik akan menjadi semakin baik. Semoga saja, perempuan yang dinikahinya kelak  juga memiliki keyakinan seperti Saya, bahwa ia menikahi laki-laki yang tidak biasa.

Ada orang-orang yang mampu membuatmu merasa dunia ini adalah rumah, dan setiap jiwa didalamnya adalah keluarga, bahkan saat kau baru mengenalnya.  Dan teman Saya ini, salah satunya. 
Alfazil Muhammad.