Dunia
ini dipenuhi dengan hal-hal indah bukan..? Lihatlah fajar dengan segala
kesejukannya, langit biru dengan gumpalan putih kapasnya yang selalu membuat
ceria, serta Senja dengan semburat jingga yang mendamaikan. Segala
keindahan itu menjadi semakin sempurna ketika ia muncul dalam wujud seorang
teman.
Dan
saat ini, Saya akan bercerita tentang seorang lelaki yang hanya pernah Saya
temui sekali, yang selanjutnya menjadi teman. Sebut saja namanya AM (memang
nama sebenarnya) :D. AM bukan ToBe,
bukan pula Ante Meridien, bukan itu. AM adalah dia, si lelaki yang Saya
anugerahkan gelar “tidak biasa”. Kenapa Saya menyebutnya tidak biasa.? Karena
cukup tiga jam baginya untuk membuat Saya menambahkan namanya dalam daftar
“orang yang penting untuk dikenal”, dan penting juga untuk ditulis sepenggal
cerita tentangnya.
Saya
berkenalan dengan si lelaki ini -lebih tepatnya dikenalkan- di salah satu
warung kopi (Sejenis kafe, tapi disini semua menyebutnya warung kopi) di daerah tempat Saya tinggal. Dia salah satu
sahabat dari “sahabat” Saya. “Alfazil”,
katanya waktu itu. Hanya itu, tanpa senyum, tanpa pertanyaan basa-basi lain
seperti yang biasa Saya dapatkan saat berkenalan dengan orang baru (setidaknya
begitu yang Saya ingat). “Anak yang
pendiam”, Saya menilai dalam hati dan dengan sok hebatnya mengambil kesimpulan
“kurang cocok berteman dengan Saya”. Ya, Saya selalu bermasalah dengan “anak
yang pendiam”. Bukan karena Saya tidak menyukai sifat “anak yang pendiam”, tapi
lebih karena Saya bingung menghadapi mereka. Mereka jarang bicara, dan Saya
bukan pembaca pikiran yang baik, maka lengkaplah sudah penderitaannya.
Well,
kita kembali ke “si lelaki yang tidak biasa” ini. Setelah 10 menit berjalan,
kemudian setengah jam, dua jam, sampai akhirnya kurang lebih tiga jam Saya
duduk di meja yang sama dengannya, segala kesimpulan dan benteng yang Saya bangun
dari awal tiba-tiba runtuh, karena dia “BUKAN anak yang pendiam”. Dia memiliki
senyum yang “bersahabat”. Dia lucu, hangat dan cerdas..!! Lelaki ini menjadi
pendukung salah satu teori yang sangat Saya percaya, bahwa “salah satu ciri
orang cerdas itu adalah lucu”. Jadi rasanya tak berlebihan jika Saya
menyebutnya begitu. Dia periang, menyenangkan, cara bicaranya ringan dan
mengasikkan. Ah, Tiba-tiba Saya mengalami semacam euforia (jika Saya boleh
menyebutnya demikian) karena bertemu dengan orang yang “luar biasa”. Saya
selalu exited bertemu dengan orang-orang yang ramah, lucu, periang, pintar, dan
.... segala ciri extrovert lainnya. Rasanya seperti bertemu dengan “orang-orang
yang diciptakan untuk mengisi dunia Saya”. Berbicara dengannya seperti sedang
berbicara dengan sahabat lama, takkan membuatmu bosan. Membawa lelaki ini ke
duniamu layaknya membawa seorang teman yang sekaligus akan menjadi saudara. :)
Dan
setelah tiga jam yang luar biasa itu, segalanya terpenggal. Dia harus berangkat
menuju sebuah kota, melanjutkan cita-cita. Pertemanan kami selanjutnya hanya
melalui dunia maya, tidak lebih. Tapi yang melekat di pikaran Saya, dia tetap
lelaki yang sama dengan yang Saya kenal selama tiga jam itu. Lelaki yang tidak
biasa.
Sekarang,
kalau nama itu disebut atau Saya baca, yang pertama kali terlintas adalah “senyum
bersahabat”nya. Pertemuan kami terlalu singkat, tapi rasanya cukup bagi Saya
untuk menganugerahkan gelar “lelaki yang tidak biasa” kepadanya. Dan lelaki
ini, entah bagaimana akan menjadi orang besar, Saya yakin itu dari hati Saya.
Salah satu orang yang di tangannya segala hal buruk berubah baik dan hal baik
akan menjadi semakin baik. Semoga saja, perempuan yang dinikahinya kelak juga memiliki keyakinan seperti Saya, bahwa ia
menikahi laki-laki yang tidak biasa.
Alfazil Muhammad.