- catatan lama, ga penting pula, tapi minta diposting juga-
Saya : Heh. Kamu ga prnah nulis lagi.?.
Pantona : Nanti malam rencananya. Kamu mau temenin? Hahaa.
Saya : Boleh, kalau mau bagi ide. Inspirasiku hilang ideku melayang. (⌣́_⌣̀). Tulisan-tulisannya cuma smpe satu paragraf, trus stuck.
Pantona : Hahaha lagi galau enak nulis sebenarnya. Ane sih gitu.
Gw : Asli. Banget. Kata2'a tu ngaliir aja.
Pantona : Tak apa, perpisahan cuma cara Tuhan untuk mempertemukan kita dengan kebahagian yang lain nya. Namanya juga hidup.
Saya : Daleeem. Tapi kalau kita yang memutuskan untuk berpisah karena merasa dijemput oleh kebahagiaan yang lain gimana.?.
Pantona : Ya lebih bagus lagi. Tapi semua itu ada alasann. Dan kita akan tau alasan kenapa kita berpisah sekarang pada suatu saat nanti. Di saat kita sudah berjalan dengan jalan yang lain.
Saya : Nyari bahagia tu kadang capek yaa. Suka pindah-pindah dianya. Atau kita yang ga pernah puas sama bahagia yang udah ada?
Pantona : Hihihih pertanyaan nya dalam. Aku juga gitu. Dan nggak tau kenapa. Tapi itu manusiawi sih.
Saya : Fiuuuh... Manusiawi yang kadang menurut gw sebagai manusia malah mirip burung.
Pantona : hahahahahahha.
Percakapan yg terlalu ringan, tapi "padat". Kadang pelajaran2-pelajaran penting tentang hidup justru didapat dari hal-hal sepele tapi "berisi". Yaaa misalnya bahagia. Bahagia ya gitu, kadang suka pindah-pindah dari satu hal ke hal lain, dari orang yang satu ke orang yang lain (menurut kita). Terus gimana.? Sebagai manusia yg sifat dasarnya pengen tau dan ga prnah puas, mencari kebahagiaan dengan pindah dari satu hal ke hal yg lain, bisa dianggap manusiawi donk.?.
Iyaa, itu hal yang manusiawi. Nah pertanyaan'a, sampe kapan kita sebagai manusia mempergunakan hak ke-manusiawi'an kita itu hanya untuk mengejar dan mencari bahagia.? Ga pernah puas dgn "bahagia" yg udah ada.? Merasa "bahagia" yg disana lebih pantas buat kita coba. Ketika ternyata "bahagia" yang kita korbankan ini lebih baik dari yang baru kita coba, biasanya kita menyesal. Lalu, mau apa.? Sedang peraturannya, bahagia yang sudah dibuang, tak boleh dipungut lagi. Hayoo.? Bingung kan.? Kalau kata nenek kakek jaman dulu, gara2 nunggu hujan yang ga pasti, air di belanga di tumpahin. Ternyata malah ga hujan-hujan, langitnya mendung doank. Air udah dibuang percuma, belanga sudah kosong, hujan yang ditunggu pun datangnya gatau kapan.
Jawabannya ya cuma satu, Bersyukur..
Ketika kita sudah bisa bersyukur, bahagia kecil pun jadi besar. Ga bahagia pun, jadi bahagia. Tak perlu lah selalu melihat ke atas, sekali2 kita juga perlu, bahkan sangat perlu melihat ke bawah, supaya rasa syukur kita semakin besar dan kemampuan bersyukur kita semakin hebat.
Ada kutipan gini (gatau punya siapa) "orang yang bahagia itu, bukan orang2 yang memiliki segalanya, tapi orang2 yang tidak pernah sibuk membanding2kan apa yang mereka miliki dengan orang lain". Nah intinya tetap, BERSYUKUR. Jadi, bahagia ga bahagia nya kita, cukup ga cukup nya bahagia yang kita punya, tergantung dari bagaimana cara kita menikmatinya (red.BERSYUKUR).
Home, April 2013.