Rabu, 16 Januari 2013

Aku pada mu..... ^_^


Aku Padamu. Cinta itu memang sederhana, seperti katamu. Tapi Aku ingin memaknai jatuhnya dengan luar biasa. Jatuh cinta padamu. Kepada lelaki yang sudah kukenal belasan tahun yang lalu dan dipisahkan oleh keadaan. Kepada lelaki yang terakhir kulihat 14 tahun yang lalu dan dipertemukan kembali, lagi, oleh keadaan. Tapi kau tahu? Cinta sejatinya tidak mengenal keadaan. Seperti saat ini. Saat lagi2 aku tegaskan, aku jatuh cinta kepadamu.
"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana", katamu saat itu. Aku tau, tapi ijinkan aku, menikmatinya sebagai sesuatu yang sempurna. Cinta darimu.
’’aku tidak percaya cinta", ungkap mu di suatu waktu. Hiduplah denganku, dan akan kuperlihatkan apa yang tak pernah ada di benakmu.
"Aku bisa mencintaimu lebih dari ini", yakinku mengungkapkan. "Syaratnya.?" Tanyamu. Cukup katakan "bersedia", tegasku.
Bersedia berbagi secangkir susu hangat denganku setiap pagi, setiap hari, selamanya. Bersedia meluangkan waktu istirahat siangmu untuk mencicipi masakanku yang sederhana. Bersedia kubacakan cerita pengantar tidur di malam-malam larutmu. Bersedia mendengar celotehan panjangku, sepanjang kau bersamaku dan bersedia menikmati segala tentang aku. Bersedia menjadi imam dalam setiap perjalanan lahir dan batinku.
Katakanlah kau bersedia.!! Bersedia terjebak denganku, sepanjang waktu, sepanjang usiamu. Dalam susah dan senangmu, dalam luka dan bahagiamu, dalam senyum dan airmatamu, dalam doa dan sujudmu, dalam kita.
Aku, padamu.

Banda Atjeh, 15 Januari 2013

Jumat, 11 Januari 2013

Pelatuk dan Cemara


Ketika aku bertemu cemara, masih ada segan.
Sehingga hening…
Bahkan ketika ia telah memanjangkan dahan berharap,
Aku hanya mampu diam, terkesiap.
Ya, karena cemara telah semakin semampai dengan dahan jenjangnya.
Sedang aku..?
Aku masih sama seperti yang dulu.
Merasa ‘kecil’, dalam balutan bulu merahku yang megah.

Ah, cemara..
Cakarku mungkin telah kuat.
Paruhku..? mampu membuatmu menjadi serpihan kecil yang dapat terbang.
Tapi aku bukan elang, dapat menjagamu dengan pandangan
Aku bukan rajawali, bersedia membawamu menjelajah saat kau jengah
Dan aku, bukan cendrawasih, yang elok ekornya membuatmu semakin indah
Aku, cemara..
Aku, hanya seekor pelatuk

Aku, yang hanya mampu diam menengadah langit.
Saat kau merintih sakit
Aku, yang hanya bisa terisak.
Saat kau jenuh oleh sesak.
Saat kau penat dalam geliat.
Ah, cemara…
Aku, hanya seekor pelatuk.

Duhai cemara, tak taukah kau..?
bulu-bulu merah ini cukup menutupi luka perkelahianku dengan masalah.
Dan kini, bagaimana aku akan memulai.?
Haruskah aku mengemis pada nasib..?
atau mengiba pada takdir..?
aku bukan dia ,cemara.
Aku bukan mereka.
Aku, hanya seekor pelatuk..

Koetaradja, 15 Desember 2011.