Jumat, 11 Januari 2013

Pelatuk dan Cemara


Ketika aku bertemu cemara, masih ada segan.
Sehingga hening…
Bahkan ketika ia telah memanjangkan dahan berharap,
Aku hanya mampu diam, terkesiap.
Ya, karena cemara telah semakin semampai dengan dahan jenjangnya.
Sedang aku..?
Aku masih sama seperti yang dulu.
Merasa ‘kecil’, dalam balutan bulu merahku yang megah.

Ah, cemara..
Cakarku mungkin telah kuat.
Paruhku..? mampu membuatmu menjadi serpihan kecil yang dapat terbang.
Tapi aku bukan elang, dapat menjagamu dengan pandangan
Aku bukan rajawali, bersedia membawamu menjelajah saat kau jengah
Dan aku, bukan cendrawasih, yang elok ekornya membuatmu semakin indah
Aku, cemara..
Aku, hanya seekor pelatuk

Aku, yang hanya mampu diam menengadah langit.
Saat kau merintih sakit
Aku, yang hanya bisa terisak.
Saat kau jenuh oleh sesak.
Saat kau penat dalam geliat.
Ah, cemara…
Aku, hanya seekor pelatuk.

Duhai cemara, tak taukah kau..?
bulu-bulu merah ini cukup menutupi luka perkelahianku dengan masalah.
Dan kini, bagaimana aku akan memulai.?
Haruskah aku mengemis pada nasib..?
atau mengiba pada takdir..?
aku bukan dia ,cemara.
Aku bukan mereka.
Aku, hanya seekor pelatuk..

Koetaradja, 15 Desember 2011.

1 komentar: