Kamis, 09 Januari 2014

Al-Fanshuri


Aku baru saja menginjakkan kakiku di Stazione Venezia, Santa Lucia, saat tiba-tiba handphoneku memperdengarkan nada dering "doraemon”. Hmmm…Raffi, gumamku. Kakak laki-lakiku itu tetap saja memperlakukan ku seperti anak lima tahun yang harus selalu dikontrol dan dihubungi. Aku mengacuhkan teleponnya dan tetap berjalan sambil mengangkat beberapa barang bawaanku. Begitu keluar dari Stasion, atmosfer keindahan Venice sudah mulai terasa. Pemandangan indah kanal mampu mengusir rasa lelahku setelah menempuh perjalanan panjang selama kurang lebih tiga jam dari Milan. Arlojiku menunjukkan pukul 21.15, karena sudah menjelang malam, Aku memutuskan untuk langsung menuju hotel yang sudah kupesan sebelumnya.

Hotel itu letaknya tidak begitu jauh dari stasiun. Tapi karena jalan di kota ini berliku-liku dan dihubungkan banyak jembatan, Aku terpaksa harus berjalan selama kurang lebih 15 menit untuk sampai kesana.  Setelah check-in dan meletakkan barang-barangku di kamar, Aku keluar dan mencari makan. Beberapa lama Aku kesulitan mencari restoran yang menjual makanan halal, sampai akhirnya dengan ajaib kutemukan sebuah restoran padang yang dikelola oleh orang asli Sumatra Barat, restoran Takana Kampuang. Dan lebih hebatnya lagi, letak restoran itu persis dipinggiran kanal, sehingga Aku bisa mengisi perut sambil menikmati pemandangan kanal yang indah. Subhanallah… ^_^.

Aku sengaja memilih tempat duduk yang paling dekat dengan kanal, sehingga benar-benar bisa menikmati pemandangan luar biasa itu. Lima menit kemudian salah satu pelayan restoran itu datang dan menyodorkanku daftar menu. Di baju seragamnya tertulis Chiama il mio UDA (Panggil saya “uda”). Tanpa pikir panjang Aku langsung memesan Nasi Padang Lengkap, sebuah menu yang pas menurutku setelah apa yang Aku lalui hari ini. Sambil menunggu pesananku datang, Aku menikmati semua yang ada di sekitarku. Bulan yang terlihat biru, kecipak air yang terdengar sepanjang Canale Grande serta Rio akibat kayuhan Gondola atau laju Water Taxi. Lampu-lampu temaram yang menyinari gereja dan bangunan-bangunan kuno sampai jembatan. Ah..what a romantic city. ^_^.

Tidak lama pesananku datang, dan Aku mengangguk sambil tersenyum kecil saat “uda” mempersilahkanku makan. Aku sudah benar-benar siap memasukkan sendok penuh makanan itu kemulutku saat tiba-tiba handphone salah satu tamu restoran  yang duduk disampingku berbunyi. Bukan bunyi hanphone yang membuatku tersentak, tapi nada deringnya.
No me ames, porque pienses queparezco diferenteTĂș no piensas que es lo justo ver pasar el tiempo juntos…….

Ah…lagu itu…salah satu lagu favorit “kami”. Lirik lagu itu mengingatkanku pada  satu nama yang telah kusimpan rapat-rapat dalam pikiranku, dan tidak ada yang pernah tahu. Sebuah nama yang membuatku memutuskan untuk lari ke tempat ini. Seorang lelaki, dengan nama itu, Al-Fanshuri. Pikiranku tiba-tiba dibawa melayang ke suatu tempat di negara asalku, Indonesia. Lebih tepatnya lagi, Aceh.

Waktu itu, tepatnya tahun 2007. Aku diam-diam jatuh cinta pada seorang laki-laki dengan sosok luar biasa di mataku. Namanya Al-Fanshuri, dan aku suka memanggilnya Fan. Tahun-tahun bersamanya bukan hal biasa bagiku. Kami sering melewati waktu bersama, siang maupun malam. Tidak, kami memang tidak pacaran. Tapi yaa…semua yang kudapat sudah lebih dari itu. Cara dia memanggil namaku, perhatian yang dia berikan, pujian-pujiannya untukku, dan hal-hal kecil yang tidak mungkin aku lupakan. Kami sangat sering bersama. Sampai tiba-tiba saat itu, 11 Maret 2012. Dia tiba-tiba menjauhiku tanpa alasan, tanpa salam perpisahan. Duniaku jungkir balik. Aku menghabiskan waktu dengan bertanya kenapa..kenapa..kenapa.??!! sampai akhirnya Aku lelah dan memutuskan untuk menerima dan menikmati kepergiannya. Seperti biasa, dalam diam.
Aku sudah benar-benar percaya diri untuk bilang Aku sudah melupakannya. Sampai tiba-tiba Aku dengar kabar dia masuk rumah sakit, dan sakitnya tidak biasa. Awalnya Aku biasa-biasa saja, toh orang sakit biasa kan..? tapi ketika teman sekamarku bilang “mungkin dia mau meninggal tu”, Aku tersentak, kepalaku rasanya mau pecah, tubuhku benar-benar kehilangan penopang. Benarkah..? Ah, tidak mungkin..ini terlalu cepat., tidak mungkin…!!!!. Aku mengambil handphone dan mengirimkan pesan singkat pada kakakku.
                Kak, Fan msuk rumah sakit.
Kakakku membalas dengan cukup singkat
                “ayo kita lihat dia”.
Rasanya ingin sekali Aku ke sana. Bertemu dengan dia (lagi), memastikan kondisinya tidak seburuk yang kupikirkan. Tapi apa..? Aku malah membalas sms kakakku dengan jawaban aneh
                “ga ah, malas”.
Bukan, bukannya Aku tidak ingin datang, tapi Aku takut. Aku takut ketika tiba di rumah sakit, kecanggunganku membongkar semuanya. Aku takut tiba-tiba disana wajahku bahkan lebih pucat dari wajahnya. Aku tidak mau orang tau apa yang kusimpan untuknya, apa yang Aku rasakan tentangnya. Tidak, mereka tidak boleh tau. Kakakku membalas pesanku
                “kamu ga boleh gitu Fa, biasa aja”.
Ah kakak…kalau saja Aku bisa sepertimu yang ekspresif dalam segala hal. Bahkan tentang perasaanmu pada orang yang kau sukai. Aku tidak bisa Kak. Bagiku, cukup Aku menikmatinya dalam diam. Cukup cemburuku Aku yang tau, cukup rindu ini Aku yang rasakan dan cukup gelisah ini Aku yang menahan. 

***

Aku tersentak dari lamunan ketika tiba-tiba merasa ada air yang mengenai wajahku. Ketika kulihat ternyata anak-anak di dekatku sedang bermain-main dengan minuman mereka. Aku tersenyum kecut, rasanya seperti ditarik paksa dari masa lalu dan dituntut untuk kembali menghadapi kenyataan, Aku sekarang disini. Nasi yang tadi kupesan ternyata belum kusentuh sama sekali. Aku kehilangan selera makan. Kuambil laptopku dari tas dan membuka situs blog pribadiku, “Ungu itu Violet, Hijau itu Kamu”. Kupilih entri baru, dan mulai mengetikkan sesuatu.. sesuatu tentang dia, Al-Fanshuri.


                Hai Fan..? Apa kabar..? Sedang apa kau disana sekarang..? baik-baik sajakahh..?
            Aku Farah, masihkah Kau mengingatku Fan..? Aku orang yang pernah Kau jadikan teman bermainmu, tempatmu berbagi keluh kesah. Ini Aku Fan, gadis kecil yang dulu pernah Kau limpahi kasih sayang dan perhatianmu. Aku mengenalmu dari kakak laki-lakiku. Kau pintar, baik dan sangat perhatian padaku. Aku mengagumimu sebagai sosok pengganti kakak laki-lakiku. Tapi kemudian seiring waktu berubah, Aku sadar rasa kagum ini juga berubah. Kekagumanku sebagai adik bermetamorfosis dengan sempurna menjadi  kekaguman seorang perempuan pada lelakinya. Dan sejak saat itu Fan, Kita berubah.
            Pada dasarnya Aku adalah perempuan yang vocal, bahkan terlalu vocal. Tapi denganmu, semuanya serba terbalik. Aku berubah diam, hening. Sehening apa yang kurasa padamu. Aku benar-benar menikmatimu dalam diam, mengagumimu diam-diam, bahkan cemburuku pun hanya diam. Entah sejak kapan Fan, Aku tak ingat. Betapa diam akhirnya menjadi sangat penting bagiku. Bagiku, diam kini adalah duniaku.
            Sudah hampir setahun Fan…tentu sudah cukup banyak hal tentangmu yang Aku lewatkan, dan hal tentangku yang tak lagi kau mengerti. Aku masih saja merindukanmu, dalam diamku. Tapi Kau tenang saja, ini bukan lagi rindu seperti dulu , seperti saat Kau baru pergi. Saat ini yang Aku rindukan hanya kenangan, bukan lagi wujudmu. Kau masih punya tempat disini Fan, tapi bukan lagi bagiannya. Terimakasih karena sudah pernah hadir.
            Ps : Jika saat ini kau sudah menikah dan punya keluarga kecil seperti impianmu dulu, sampaikan salam kenalku untuk istri dan anak-anakmu. ^_^.   

***

Aku menutup laptop dan meminta tagihan untuk pesananku. Aku menelusuri sepanjang jalan pulang ke hotel dengan satu perasaan yang tidak bisa aku jelaskan lagi. Gerimis turun, mendamaikan rindu yang tiba-tiba berkecamuk lagi di dadaku. Kau, Al-Fanshuri.
When you miss someone, it doesn’t mean that you need them come back into your life. “miss” is just a little part of memories. 
Venice, Januari 2014.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar