Aku baru saja menginjakkan kakiku
di Stazione Venezia, Santa Lucia, saat tiba-tiba handphoneku memperdengarkan
nada dering "doraemon”. Hmmm…Raffi, gumamku. Kakak laki-lakiku itu
tetap saja memperlakukan ku seperti anak lima tahun yang harus selalu dikontrol
dan dihubungi. Aku mengacuhkan teleponnya dan tetap berjalan sambil mengangkat
beberapa barang bawaanku. Begitu keluar dari Stasion, atmosfer
keindahan Venice sudah mulai terasa. Pemandangan indah kanal mampu mengusir
rasa lelahku setelah menempuh perjalanan panjang selama kurang lebih tiga jam
dari Milan. Arlojiku menunjukkan pukul 21.15, karena sudah menjelang malam, Aku
memutuskan untuk langsung menuju hotel yang sudah kupesan sebelumnya.
Hotel itu letaknya tidak begitu
jauh dari stasiun. Tapi karena jalan di kota ini berliku-liku dan dihubungkan
banyak jembatan, Aku terpaksa harus berjalan selama kurang lebih 15 menit untuk
sampai kesana. Setelah check-in dan
meletakkan barang-barangku di kamar, Aku keluar dan mencari makan. Beberapa
lama Aku kesulitan mencari restoran yang menjual makanan halal, sampai akhirnya
dengan ajaib kutemukan sebuah restoran padang yang dikelola oleh orang asli
Sumatra Barat, restoran Takana Kampuang. Dan lebih hebatnya lagi, letak
restoran itu persis dipinggiran kanal, sehingga Aku bisa mengisi perut sambil
menikmati pemandangan kanal yang indah. Subhanallah… ^_^.
Aku sengaja memilih tempat duduk
yang paling dekat dengan kanal, sehingga benar-benar bisa menikmati pemandangan
luar biasa itu. Lima menit kemudian salah satu pelayan restoran itu datang dan
menyodorkanku daftar menu. Di baju seragamnya tertulis Chiama il mio UDA (Panggil saya “uda”). Tanpa pikir panjang Aku langsung memesan Nasi Padang
Lengkap, sebuah menu yang pas menurutku setelah apa yang Aku lalui hari ini.
Sambil menunggu pesananku datang, Aku menikmati semua yang ada di sekitarku.
Bulan yang terlihat biru, kecipak air yang terdengar sepanjang Canale Grande
serta Rio akibat kayuhan Gondola atau laju Water Taxi. Lampu-lampu temaram yang
menyinari gereja dan bangunan-bangunan kuno sampai jembatan. Ah..what a
romantic city. ^_^.
Tidak lama pesananku datang, dan
Aku mengangguk sambil tersenyum kecil saat “uda” mempersilahkanku makan. Aku
sudah benar-benar siap memasukkan sendok penuh makanan itu kemulutku saat
tiba-tiba handphone salah satu tamu restoran
yang duduk disampingku berbunyi. Bukan bunyi hanphone yang membuatku
tersentak, tapi nada deringnya.
“No me ames, porque
pienses queparezco diferenteTĂș no piensas que es lo justo ver pasar el tiempo
juntos…….
Ah…lagu itu…salah
satu lagu favorit “kami”. Lirik lagu itu mengingatkanku pada satu nama yang telah kusimpan rapat-rapat
dalam pikiranku, dan tidak ada yang pernah tahu. Sebuah nama yang membuatku
memutuskan untuk lari ke tempat ini. Seorang lelaki, dengan nama itu,
Al-Fanshuri. Pikiranku tiba-tiba dibawa melayang ke suatu tempat di negara
asalku, Indonesia. Lebih tepatnya lagi, Aceh.
Waktu itu,
tepatnya tahun 2007. Aku diam-diam jatuh cinta pada seorang laki-laki dengan
sosok luar biasa di mataku. Namanya Al-Fanshuri, dan aku suka memanggilnya Fan.
Tahun-tahun bersamanya bukan hal biasa bagiku. Kami sering melewati waktu
bersama, siang maupun malam. Tidak, kami memang tidak pacaran. Tapi yaa…semua
yang kudapat sudah lebih dari itu. Cara dia memanggil namaku, perhatian yang
dia berikan, pujian-pujiannya untukku, dan hal-hal kecil yang tidak mungkin aku
lupakan. Kami sangat sering bersama. Sampai tiba-tiba saat itu, 11 Maret 2012.
Dia tiba-tiba menjauhiku tanpa alasan, tanpa salam perpisahan. Duniaku jungkir
balik. Aku menghabiskan waktu dengan bertanya kenapa..kenapa..kenapa.??!!
sampai akhirnya Aku lelah dan memutuskan untuk menerima dan menikmati
kepergiannya. Seperti biasa, dalam diam.
Aku sudah
benar-benar percaya diri untuk bilang Aku sudah melupakannya. Sampai tiba-tiba
Aku dengar kabar dia masuk rumah sakit, dan sakitnya tidak biasa. Awalnya Aku
biasa-biasa saja, toh orang sakit biasa kan..? tapi ketika teman sekamarku
bilang “mungkin dia mau meninggal tu”, Aku tersentak, kepalaku rasanya mau
pecah, tubuhku benar-benar kehilangan penopang. Benarkah..? Ah, tidak
mungkin..ini terlalu cepat., tidak mungkin…!!!!. Aku mengambil handphone dan
mengirimkan pesan singkat pada kakakku.
Kak, Fan msuk rumah sakit.
Kakakku
membalas dengan cukup singkat
“ayo kita lihat dia”.
Rasanya
ingin sekali Aku ke sana. Bertemu dengan dia (lagi), memastikan kondisinya tidak
seburuk yang kupikirkan. Tapi apa..? Aku malah membalas sms kakakku dengan
jawaban aneh
“ga ah, malas”.
Bukan,
bukannya Aku tidak ingin datang, tapi Aku takut. Aku takut ketika tiba di rumah
sakit, kecanggunganku membongkar semuanya. Aku takut tiba-tiba disana wajahku
bahkan lebih pucat dari wajahnya. Aku tidak mau orang tau apa yang kusimpan
untuknya, apa yang Aku rasakan tentangnya. Tidak, mereka tidak boleh tau.
Kakakku membalas pesanku
“kamu ga boleh gitu Fa, biasa
aja”.
Ah kakak…kalau
saja Aku bisa sepertimu yang ekspresif dalam segala hal. Bahkan tentang
perasaanmu pada orang yang kau sukai. Aku tidak bisa Kak. Bagiku, cukup Aku
menikmatinya dalam diam. Cukup cemburuku Aku yang tau, cukup rindu ini Aku yang
rasakan dan cukup gelisah ini Aku yang menahan.
***
Aku
tersentak dari lamunan ketika tiba-tiba merasa ada air yang mengenai wajahku.
Ketika kulihat ternyata anak-anak di dekatku sedang bermain-main dengan minuman
mereka. Aku tersenyum kecut, rasanya seperti ditarik paksa dari masa lalu dan
dituntut untuk kembali menghadapi kenyataan, Aku sekarang disini. Nasi yang
tadi kupesan ternyata belum kusentuh sama sekali. Aku kehilangan selera makan.
Kuambil laptopku dari tas dan membuka situs blog pribadiku, “Ungu itu Violet,
Hijau itu Kamu”. Kupilih entri baru, dan mulai mengetikkan sesuatu.. sesuatu
tentang dia, Al-Fanshuri.
Hai Fan..? Apa kabar..?
Sedang apa kau disana sekarang..? baik-baik sajakahh..?
Aku Farah, masihkah Kau mengingatku Fan..? Aku orang yang
pernah Kau jadikan teman bermainmu, tempatmu berbagi keluh kesah. Ini Aku Fan,
gadis kecil yang dulu pernah Kau limpahi kasih sayang dan perhatianmu. Aku
mengenalmu dari kakak laki-lakiku. Kau pintar, baik dan sangat perhatian
padaku. Aku mengagumimu sebagai sosok pengganti kakak laki-lakiku. Tapi
kemudian seiring waktu berubah, Aku sadar rasa kagum ini juga berubah.
Kekagumanku sebagai adik bermetamorfosis dengan sempurna menjadi kekaguman seorang perempuan pada lelakinya.
Dan sejak saat itu Fan, Kita berubah.
Pada dasarnya Aku adalah perempuan yang vocal, bahkan
terlalu vocal. Tapi denganmu, semuanya serba terbalik. Aku berubah diam,
hening. Sehening apa yang kurasa padamu. Aku benar-benar menikmatimu dalam
diam, mengagumimu diam-diam, bahkan cemburuku pun hanya diam. Entah sejak kapan
Fan, Aku tak ingat. Betapa diam akhirnya menjadi sangat penting bagiku. Bagiku,
diam kini adalah duniaku.
Sudah hampir setahun Fan…tentu sudah cukup banyak hal tentangmu yang Aku lewatkan, dan hal tentangku yang tak lagi kau mengerti. Aku masih saja merindukanmu,
dalam diamku. Tapi Kau tenang saja, ini bukan lagi rindu seperti dulu , seperti
saat Kau baru pergi. Saat ini yang Aku rindukan hanya kenangan, bukan lagi
wujudmu. Kau masih punya tempat disini Fan, tapi bukan lagi bagiannya.
Terimakasih karena sudah pernah hadir.
Ps : Jika saat ini kau sudah menikah dan punya keluarga kecil seperti impianmu dulu, sampaikan salam kenalku untuk istri dan anak-anakmu.
^_^.
***
Aku menutup
laptop dan meminta tagihan untuk pesananku. Aku menelusuri sepanjang jalan
pulang ke hotel dengan satu perasaan yang tidak bisa aku jelaskan lagi. Gerimis turun, mendamaikan rindu
yang tiba-tiba berkecamuk lagi di dadaku. Kau, Al-Fanshuri.
When
you miss someone, it doesn’t mean that you need them come back into your life.
“miss” is just a little part of memories.
Venice,
Januari 2014.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar