Setelah selesai
dari kelas menulis -yang akhirnya berubah jadi kuis rangking 1- di RUMCAY, Saya
dan beberapa teman Alumni Inaugurasi FLP 2014 memutuskan untuk melanjutkan
perjumpaan kami yang jarang terjadi dan sangat berharga ini di sebuah warung
kopi daerah Lamnyong. Bukan untuk sekedar ngopi dan hahahihi ga jelas, tapi karena ada beberapa hal
yang ingin kami persiapkan untuk pertemuan selanjutnya minggu depan (Insya
allah).
Sayangnya pada kesempatan emas ini sebagian besar teman kami yang lain tak bisa ikut hadir, karena sudah ada agenda masing-masing. Sebut saja bang Azhar yang sudah ber"keluarga" harus pergi dengan keluarganya, nyak Aini yang ada janji khanduri (kayaknya), atau teman-teman dengan agenda yang sudah lebih dulu direncanakan. Tapi yah, perjuangan harus dilanjutkan kawan. Kita harus semangat melawan penjajahan yang dialami bangsa ini. Merdeka..!!. Akhirnya jadilah kami pergi dengan beranggotakan delapan cewe kece dan tiga cowo-hampir-kece :D. (ada nambah dua lagi selanjutnya).
Setelah sampai
di TKP, duek-duek ngopi itupun dibuka
dengan kata-kata sambutan yang tidak selesai benar dari Ruslan (gegara diganggu
oleh Jamal sang fotografer), lalu dilanjutkan dengan membahas agenda apa yang
akan dibicarakan di pertemuan selanjutnya. Kesempatan ini juga dimanfaatkan teman-teman
untuk lebih mengenal satu sama lain (alasannya biar tau mana yang harus
dipanggil “bang”, “kak” dan “adek”) dengan perkenalan lebih lanjut mengenai
tempat tinggal, tanggal lahir, alamat, status perkawinan, golongan darah,
ukuran sepatu, makanan favorit dan Ah, sudah ngawur.
Duek-duek ngopi ini berlangsung seperti
ngumpul dan diskusi-diskusi pada umumnya ; memberikan saran, membahas program dan segala
hal yang dianggap baik untuk ke depan. Akan tetapi ada satu hal yang menarik disini, yaitu pada saat penutupan forum. Sebelum diskusi ditutup, Ruslan
tiba-tiba mengatakan “nah sebelum ini
kita tutup, coba semua yang hadir hari ini memberikan kutipan atau kata-kata
bijak.”
Tuink...!! kami
pun langsung shock dan mulai memutar otak. Akhirnya, setelah perenungan yang
sangat panjang (kira menghabiskan waktu sepersekian tahun cahaya lah) dimulai dari Yasmin, mulailah mengalir kutipan atau kalimat
(yang dianggap) bijak dari masing-masing kami. Beberapa yang masih saya ingat
adalah sebagai berikut :
“Setelah diskusi
ini, dapat disimpulkan bahwa alumni inaugurasi FLP 2014 adalah alumni paling kemarok yang pernah ada namun kemarok dalam hal yang positif” (Yasmin)
"Awal mula cerita
kita dimulai dari hidup kita. Jadi tatalah hidup kita agar menjadi cerita yang
hebat" (Syufiatuddin Indah Haqqun)
"Di manapun
berada, teruslah melakukan kebaikan. Karena dengan melakukan kebaikan, niscaya
akan banyak pintu kebaikan yang akan terbuka pula untuk kita" (Helka Pratiwi)
“Jangan mau
hanya menjadi konsumen kebaikan, tapi jadilah pribadi yang menciptakan kebaikan”
(Ruslan)
“Kita harus bisa
menjadi orang-orang yang melakukan sesuatu dengan Cerdas, Tuntas dan sesuai
dengan Prioritas” (Hendri)
“Menurut saya,
yang paling penting itu adalah ukhuwah. Jadi, saya berharap semoga saja ukhuwah
kita tetap terjaga selamanya” (Maidatus Saumi)
“Dari buku yang
saya baca, seorang penulis yang baik itu adalah yang menghabiskan sepertiga
malamnya untuk menulis, sepertiga malam untuk ibadah dan sepertiga malam untuk
istirahat tidur (Yuni Ardini)
“Ketika yang
kita harapkan tidak sesuai dengan hasil, namun pada waktu yang sama kita tetap
melakukan hal lama secara berulang, maka itu adalah suatu kegilaan.” (Hayatul
Maulina).
“Berbagilah
apapun, kapanpun dan dimanapun” (Cut At-Thahirah)
“Kebahagiaan dan
kesedihan itu jalannya berbarengan. Disaat kita sedang ditimpa kesedihan,
ikhlaskan. Anggaplah kita sedang berkorban untuk kebahagiaan orang lain. Dan
ketika kita sedang berada dalam kebaikan dan kebahagiaan, bersyukurlah. Karena
diluar sana ada yang harus berkorban demi kebahagiaan kita” (Saya)
Pasha, mengutip
salah satu pesan dari Buya Hamka “Kalau hidup hanya sekedar hidup, Babi di hutan
juga hidup. Kalau bekerja hanya sekedar bekerja, Kera juga bekerja.”
Begitulah, duek-duek ngopi hari ini ditutup dengan
“bijak” oleh masing-masing kami. Semoga saja, segala yang sudah terucap dapat
terwujud dalam sikap. Ada satu kutipan, kalimat, kata-kata bijak atau apalah
namanya dari salah satu teman yang menurutku sangat menyentuh dan dengan sangat
bangga Aku jadikan kalimat penutup di tulisan ini.
“Saya sudah
menganggap kita ini sebuah keluarga. Lalu adakah yang lebih dekat dari KELUARGA?”
(Jamal Anshari).
Banda Aceh, 11
Mei 2014
Ps : Reza fahlevi kemarin bilang apa..? ane lupa. -_-