Senin, 12 Mei 2014

Bukan Sekedar Ngopi



Setelah selesai dari kelas menulis -yang akhirnya berubah jadi kuis rangking 1- di RUMCAY, Saya dan beberapa teman Alumni Inaugurasi FLP 2014 memutuskan untuk melanjutkan perjumpaan kami yang jarang terjadi dan sangat berharga ini di sebuah warung kopi daerah Lamnyong. Bukan untuk sekedar ngopi dan hahahihi ga jelas, tapi karena ada beberapa hal yang ingin kami persiapkan untuk pertemuan selanjutnya minggu depan (Insya allah). 

Sayangnya pada kesempatan emas ini sebagian besar teman kami yang lain tak bisa ikut hadir, karena sudah ada agenda masing-masing. Sebut saja bang Azhar yang sudah ber"keluarga" harus pergi dengan keluarganya, nyak Aini yang ada janji khanduri (kayaknya), atau teman-teman dengan agenda yang sudah lebih dulu direncanakan. Tapi yah, perjuangan harus dilanjutkan kawan. Kita harus semangat melawan penjajahan yang dialami bangsa ini. Merdeka..!!. Akhirnya jadilah kami pergi dengan beranggotakan delapan cewe kece dan tiga cowo-hampir-kece :D. (ada nambah dua lagi selanjutnya).

Setelah sampai di TKP, duek-duek ngopi itupun dibuka dengan kata-kata sambutan yang tidak selesai benar dari Ruslan (gegara diganggu oleh Jamal sang fotografer), lalu dilanjutkan dengan membahas agenda apa yang akan dibicarakan di pertemuan selanjutnya. Kesempatan ini juga dimanfaatkan teman-teman untuk lebih mengenal satu sama lain (alasannya biar tau mana yang harus dipanggil “bang”, “kak” dan “adek”) dengan perkenalan lebih lanjut mengenai tempat tinggal, tanggal lahir, alamat, status perkawinan, golongan darah, ukuran sepatu, makanan favorit dan Ah, sudah ngawur. 

Duek-duek ngopi ini berlangsung seperti ngumpul dan diskusi-diskusi pada umumnya ; memberikan saran, membahas program dan segala hal yang dianggap baik untuk ke depan. Akan tetapi ada satu hal yang menarik disini, yaitu pada saat penutupan forum. Sebelum diskusi ditutup, Ruslan tiba-tiba mengatakan “nah sebelum ini kita tutup, coba semua yang hadir hari ini memberikan kutipan atau kata-kata bijak.” 

Tuink...!! kami pun langsung shock dan mulai memutar otak. Akhirnya, setelah perenungan yang sangat panjang (kira menghabiskan waktu sepersekian tahun cahaya lah) dimulai dari Yasmin, mulailah mengalir kutipan atau kalimat (yang dianggap) bijak dari masing-masing kami. Beberapa yang masih saya ingat adalah sebagai berikut :

“Setelah diskusi ini, dapat disimpulkan bahwa alumni inaugurasi FLP 2014 adalah alumni paling kemarok yang pernah ada namun kemarok dalam hal yang positif” (Yasmin)

"Awal mula cerita kita dimulai dari hidup kita. Jadi tatalah hidup kita agar menjadi cerita yang hebat" (Syufiatuddin Indah Haqqun)

"Di manapun berada, teruslah melakukan kebaikan. Karena dengan melakukan kebaikan, niscaya akan banyak pintu kebaikan yang akan terbuka pula untuk kita" (Helka Pratiwi)

“Jangan mau hanya menjadi konsumen kebaikan, tapi jadilah pribadi yang menciptakan kebaikan” (Ruslan)

“Kita harus bisa menjadi orang-orang yang melakukan sesuatu dengan Cerdas, Tuntas dan sesuai dengan Prioritas” (Hendri)

“Menurut saya, yang paling penting itu adalah ukhuwah. Jadi, saya berharap semoga saja ukhuwah kita tetap terjaga selamanya” (Maidatus Saumi)

“Dari buku yang saya baca, seorang penulis yang baik itu adalah yang menghabiskan sepertiga malamnya untuk menulis, sepertiga malam untuk ibadah dan sepertiga malam untuk istirahat tidur (Yuni Ardini)

“Ketika yang kita harapkan tidak sesuai dengan hasil, namun pada waktu yang sama kita tetap melakukan hal lama secara berulang, maka itu adalah suatu kegilaan.” (Hayatul Maulina).

“Berbagilah apapun, kapanpun dan dimanapun” (Cut At-Thahirah)

“Kebahagiaan dan kesedihan itu jalannya berbarengan. Disaat kita sedang ditimpa kesedihan, ikhlaskan. Anggaplah kita sedang berkorban untuk kebahagiaan orang lain. Dan ketika kita sedang berada dalam kebaikan dan kebahagiaan, bersyukurlah. Karena diluar sana ada yang harus berkorban demi kebahagiaan kita” (Saya)

Pasha, mengutip salah satu pesan dari Buya Hamka “Kalau hidup hanya sekedar hidup, Babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja hanya sekedar bekerja, Kera juga bekerja.”

Begitulah, duek-duek ngopi hari ini ditutup dengan “bijak” oleh masing-masing kami. Semoga saja, segala yang sudah terucap dapat terwujud dalam sikap. Ada satu kutipan, kalimat, kata-kata bijak atau apalah namanya dari salah satu teman yang menurutku sangat menyentuh dan dengan sangat bangga Aku jadikan kalimat penutup di tulisan ini.

“Saya sudah menganggap kita ini sebuah keluarga. Lalu adakah yang lebih dekat dari KELUARGA?” (Jamal Anshari).

Banda Aceh, 11 Mei 2014
Ps : Reza fahlevi kemarin bilang apa..? ane lupa. -_-

4 komentar:

  1. Aiih, jadi terharu sama quotesnya Jamal Anshari...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keren kan bang si Jamal Anshari kita tu..? Icha jga terharu abang mau koment di postingan ini. :D

      Hapus
  2. hahha... kerennya tulisan ini karena ada nama gue

    BalasHapus