Minggu, 26 Januari 2014

Cari Yang Tak Terlihat


Sabtu, 25 januari 2014 yang lalu, Fakultas Psikologi UNMUHA mengadakan Pelatihan Sehari Asessment Anak Berkebutuhan Khusus yang diisi oleh dr. Tri Gunadi Amd.OT.,S.Psi (Dosen FK UI, Ketua YAMET dan Eyangnya terapis di Indonesia). Pada kesempatan tersebut, beliau mengatakan “salah satu kesalahan terbesar terapis di Indonesia adalah seringkali membenahi sesuatu yang terlihat”.  Beberapa detik setelah beliau mengatakan itu, tiba-tiba langit mendung..bumi bergoyang.. ruang pelatihan dipenuhi oleh teriakan-teriakan penuh rasa bersalah dan rontaan minta maaf, lalu tiba-tiba saya berdiri di atas meja dan dengan semangat berteriak..Benaaarr..!!!!(sayangnya hanya dalam pikiran saya..hehehe).

Yap, harusnya kita emang menyadari hal itu. Teorinya, sesuatu yang terlihat di permukaan, adalah manifestasi dari sesuatu yang tersembunyi dan (biasanya) lebih besar dan lebih dahsyat, Seperti fenomena gunung es yang menenggelamkan kapal Titanic yang wow itu. Pada proses terapi anak berkebutuhan khusus, sederhananya mungkin seperti ini, bagaimana mungkin si anak diberikan terapi wicara, kalau meniup dan meniru saja mereka belum bisa, dan sebagainya.  Nah, hal-hal beginilah yang sekarang sering kita lakukan sebagai terapis, fasislitator, atau apalah sebutannya untuk praktisi di dunia seperti ini. Kita seringkali tertipu dengan membenahi perilaku-perilaku atau sesuatu yang terlihat pada anak, tanpa menyadari ada hal-hal yang tidak terlihat sedang mengintip kita. Jadi, sekarang PR kita sebagai orang-orang yang memang mau concern ke dunia Anak-Anak Berkebutuhan Khusus bertambah. PR untuk sama-sama membenahi diri dan melatih kepekaan kita terhadap hal-hal yang (benar-benar) dibutuhkan oleh anak. Bukan sekedar observasi, menilai yang kelihatan, buat program yang (menurut kita udah) benar, lalu duuuuuuuuuuuuur ngasih terapi si Anak.

Teori ini juga menurut saya tidak hanya berlaku pada anak dengan special needs, tapi juga pada anak-anak pada umumnya. Contoh kasus begini “Yogi punya kebiasaan memukul orang-orang di sekelilingnya ketika marah, kesal, bosan, atau lainnya. Setiap Yogi melakukan itu, ibunya akan bilang “Yogi..!! ga boleh mukul..!!”. Besoknya, Yogi tidak lagi memukul tapi menendang. Lalu seperti biasa ibunya akan bilang “Yogi..!! ga nendang-nendang..!!”. Begitu seterusnya sampai Yogi punya koleksi jurus fisik dalam berbagai gaya, adat, tradisi, dan peradaban.

Hal seperti ini juga yang banyak kita lakukan sebagai orangtua, kakak, abang, atau siapapun yang posisinya lebih tua dari si anak. Kita seringkali hanya terus berusaha memperbaiki (red.menghilangkan) perilaku memukul, menendang, melempar barang, dan lain-lain. Sebagian besar dari kita seringkali tidak mau tau tentang hal-hal yang ada dibalik perilaku-perilaku negatif tadi. Kita tidak mau bertanya “abang kenapa mukul bunda nak”..? atau pertanyaan sejenis yang tentunya dengan gaya masing-masing namun dengan tujuan yang sama, untuk tau kenapa si anak melakukan itu, atau apa yang dirasakan anak sampai dia akhirnya melakukan itu.
Jadi, begitulah. Kembali ke cerita di atas, selalu ingat fenomena gunung es. Bahwa yang terlihat, sesungguhnya menyimpan sesuatu yang tentunya lebih besar dan dahsyat. Seperti kata orang, pastikan dulu kualitas isinya. Kalau packagingnya OK, itu Bonus. (Lah..ini mah ga nyambung pembaca... :D). Yuuukkkk...Cari yang tak terlihat. ^_^.
-cha-