Karena
cinta adalah penggerak utama seluruh jagat raya.
Banyak orang yang mempermasalahkan
kegiatanku sebagai guru. Baik sebagai guru PAUD, guru les, atau guru apapun
itu. Kata mereka, “ngapain capek-capek
kuliah di Fakultas Psikologi kalau ujung-ujungnya jadi guru PAUD”, atau
“ngapain jadi Sarjana kalau cuma ngajar PAUD”, dan cemoohan senada lainnya.
Tidak sedikit juga yang berusaha menggodaku karena bertahan pada ranah yang
sama ; mengajar. Mereka sering bilang “kerja di Bank aja Cha, gajinya lebih
besar”, atau “kenapa sih mesti
ngajar, gajinya kecil gitu”, dan blablabla.
Bagiku (dan bagi orang-orang yang
mencintai pekerjaanya), ini bukan hanya tentang jumlah rupiah, bukan juga
tentang titel kesarjanaan. Ada hal lebih berharga dari sekedar kedua hal itu,
yang akhirnya menjadi alasan pertamaku memilih menjadi guru. Ini tentang sebuah
perasaan yang mampu membuat bumi dengan setia menghabiskan 365 hari hanya untuk
mengitari matahari. Tentang keinginan untuk terus berinteraksi dengan hal-hal
dan sosok-sosok yang entah bagaimana, membuat kita rindu. Tentang perasaan Aku-akan-melakukan-apa-saja. Ya, ini
tentang cinta dan menuangkannya.
Di sini, Aku jatuh cinta. Jatuh
cinta pada wajah-wajah yang penasaran setiap saat Aku bercerita tentang hal-hal
yang belum pernah mereka dengar. Jatuh cinta pada ekpresi-ekspresi yang mereka
perlihatkan, dan jatuh cinta pada rasa bangga karena Aku dipercaya. Semua akan
kita lakukan sebagai pecinta bukan.? Seperti yang diungkapkan Rumi, “Jika
gunung dan bumi bukan pecinta, tentu rumput takkan tumbuh dari dada mereka,”. Lalu
adakah hal lain yang mampu menggerakkanmu dengan tulus selain cinta.?
Baiklah, mari bicara kebenaran yang
bukan hanya kebetulan. Sejujurnya, ada empat alasan kenapa Aku memilih menjadi
guru. Alasan pertama dan yang paling pasti, sudah kujelaskan. Alasan kedua,
menjadi guru itu tidak ada istilah enak ngajar disana, enggak enak ngajar
disini. Karena mengajar (harusnya) bukan untuk atasan. Aku mengajar untuk
mereka ; anak-anak yang nantinya menjadi generasi pengubah tanah ini, bangsaku
sendiri. Meskipun kita tidak bisa menyangkal bahwa lingkungan tempat bekerja
juga berpengaruh pada performa, tapi tetap saja itu bukan faktor utama.
Alasan ketiga, Aku terlahir dengan
kemampuan bicara diatas rata-rata (red. Cerewet). Rasanya tidak ada kegiatan
yang lebih baik untuk “kemampuanku” selain mengajar. Menjadi seorang penyiar
atau presenter..? Aku tak se-PD itu. Menjadi motivator.? Aku takut Mario Teguh Golden Ways diganti menjadi Lissabella No Golden No Ways, kan tak enak sama opa.
Jadi, mengajarlah solusinya. Aku bahagia, Aku berpahala (kaya iklan rokok yah).
Dan alasan yang tidak kalah penting
dari itu semua adalah karena satu diantara tiga perkara yang tidak akan
terputus denganku ketika nanti akhirnya Aku mati ; ilmu yang bermanfaat. Bagiku,
diantara tiga perkara yang tidak terputus itu, perkara yang satu ini lah yang
paling mampu kulakukan dari sekarang. Anak-anak yang shaleh.? Tidak ada yang
bisa memastikan Aku mati setelah menikah dan punya anak bukan.? Setelah menikah
pun, tidak ada yang berani menjamin Aku punya anak. Bahkan punya anak pun,
tidak ada juga yang bisa memastikan Aku akan mampu mendidik mereka menjadi
anak-anak yang shaleh. Perkara sedekah..? Ah, mungkin kalau amalan yang satu
ini punya buku sendiri, pastilah catatannya masih belum sampai setengah, bahkan
mungkin tidak sampai seperempat.
Disinilah Aku sekarang. Menjadi
salah satu dari milyaran orang yang memilih untuk berjuang menaburkan benih-benih
ilmu yang (semoga) bermanfaat, dan menabungnya untuk bekal kelak di akhirat. Setidaknya,
kalau nanti Aku mati dan tiba-tiba ada ular yang mau mengigit, ada sesuatu yang
menahan dan bilang “hai Ular jangan gigit dia.! Karena jasanya dulu anak-anak
itu jadi tau kalau buy itu bacanya bai, bukan bui.” Atau tiba-tiba ada tangan yang mencekik ular itu dan bilang
“jangan berani macam-macam sama Icha, beliau dulu mengajarkan anak-anak baca
Iqra, dan sekarang anak-anak itu sudah kuliah di mesir dan menjadi imam.” Dan
semoga saja di hari pembalasan nanti, ketika setiap jiwa sudah ditentukan “rumah”nya
sesuai dengan bekal yang mereka bawa dari dunia, ketika semua amalan sudah
punya muara, salah satu dari murid-muridku datang dan menarikku ke sana ; Surga.
(Amin).
Maka, terlepas dari profesi apapun,
alasan sejenius apapun yang menjadi patokan saat profesi itu menjadi pilihan,
semuanya takkan dianggap ada jika di dalamnya tak ada cinta. Jadi, kutegaskan sekali
lagi agar kalian tak lupa, bahwa ini
tentang cinta. Di atas segalanya.
Banda
Aceh, 5 Mei 2014.
Di
sebuah sekolah, di antara wajah-wajah polos yang selalu ceria.




