Lissa Bella Rina Putri featuring
Tomi Ibnu Yusri Ibn Yusuf.
Ketika Pelatuk
bertemu Cemara, masih ada segan.
Sehingga hening.
Bahkan ketika Cemara telah
memanjangkan dahan berharap, pelatuh hanya diam terkesiap.
Ya, karena Cemara
telah semakin semampai dengan dahan jenjangnya itu.
Tapi, Pelatuk masih sama
seperti yang dulu.
Merasa ‘kecil’ dalam balutan bulu merahnya yang megah.
Cemara
terdiam dan menunduk…
Ah, Pelatuk selalu
merendah diri. Padahal Cemara tau, cakarnya kini telah makin kuat untuk
mencengkeram dahan-dahan Cemara yang indah.
Dan paruhnya.? Mungkin tak setajam
elang, tapi mampu membuat Cemara menjadi serpihan-serpihan kecil yang dapat
terbang.
Pelatuk hanya
bertengger manis dan menengadah langit.
Duhai Cemara, tak taukah kau..?
bulu-bulu merah ini cukup menutupi luka perkelahianku dengan masalah.
Aku tau,
dahanmu memiliki kekuatan untuk menyembuhkan.
Tapi..bagaimana aku akan
memulai.?
Cemara meneteskan
embun yang masih tersisa di helaian daunnya, merasa perih.
Pelatuk..cukuplah
kau hinggap disini, di dahan manapun yang kau mau dan berikan cengkeraman yang
membuatku yakin, kau tak akan berpindah sarang.
Bagaimana
jika nanti telah banyak yang bertengger di rantingmu..? elang mungkin?
Rajawali? Atau beo yang rajin bicara.? Atau cenderawasih dengan ekornya.? Pelatuk
masih meragu.
Biarkan Aku
memilih Pelatuk. Bisa jadi aku tetap memilihmu. Karena elang, kasar
cengkeramannya membuatku sakit.
Rajawali.? dia terlalu suka berpetualang.
Aku
terganggu dengan celotehan beo yang tidak akan pernah berhenti.
Cenderawasih.?
Ah, ia tak pantas untukku. Ia akan selalu dan lebih bersinar, bahkan ketika aku
dibawah sinar mentari.
Dan kau..? aku cinta sesuatu yang sederhana sepertimu.
Yang ia pahami, mulai saat itu, ia akan tetap disitu, menjaga
cengkeramannya pada Cemara, mematuk paruh kecilnya dan tinggal.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar