Minggu, 27 April 2014

Ini Sejarahku.! Mana Sejarahmu.?



Sebuah catatan mengenai perjalanan yang sarat makna kebersamaan dan sejarah.

       Sebenarnya, ini kali kedua Saya ke tempat ini. Namun tetap saja perjalanan kali ini membuat Saya memutuskan “kabur” dari sebuah tempat lain. Hari ini, dalam rangka jelajah budaya kelas menulis pertama setelah Inaugurasi, kami (red.FLPers) melakukan kunjungan ke sebuah situs sejarah dan budaya di Banda Aceh. Tempat ini terletak di sudut jalan, berhadapan dengan Kherkof dan berdampingan dengan Taman Budaya. Taman Sari Gunongan, begitu tempat ini diberi nama. Konon, taman ini adalah salah satu saksi cinta Sultan Iskandar Muda kepada Sang Permaisuri, Putri Pahang, atau di Aceh disebut Putroe Phang. Di taman ini kami melihat, memasuki dan sedikit mempelajari peninggalan-peninggalan Kerajaan Sultan Iskandar Muda yang masih tersisa.
       
        Tempat yang pertama kali kami datangi setelah menginjakkan kaki di taman ini adalah sebuah bangunan yang disebut Gunongan. Memasuki bangunan ini harus dengan sedikit merunduk (bagi yang tinggi) karena pintunya yang kecil dan rendah. Setelah sampai di atas, angin yang berhembus dan pemandangan yang menggoda mata membuat para FLP-ers ini secara spontan mengeluarkan gadget masing-masing dan mulai terdengar suara “foto yuk, foto yuk.!”. Ya, begitulah adanya. Baiklah, kembali ke Gunongan. Gunongan adalah tempat putri bermain dan mengeringkan diri setelah mandi. Tempat ini juga dijadikan sebagai ruang untuk putri berganti pakaian, karena konon di dalamnya terdapat terowongan bawah tanah yang langsung menghubungkan Gunongan dengan Pinto Khop. Ada satu cerita lucu yang beredar di masyarakat mengenai bangunan ini, yaitu mengenai proses pembangunan Gunongan menggunakan telur ayam. Pada kenyataannya, menurut salah seorang pemandu di  tempat ini, cerita tersebut tidaklah benar. Telur yang bertumpuk itu digunakan sebagai makanan untuk pekerja, bukan sebagai bahan pembuat Gunongan. Lalu manakah cerita yang benar..? Wallahua’alam bi shawab.
Gunongan
 
       Puas berjemur ria, menikmati hembusan angin dan berfoto, kami pun turun dan melihat Leusong, sebuah bangunan kecil berbentuk bulat yang menurut cerita merupakan tempat mandi putri dan dayang-dayang. Pada bagian atas Leusong ini terdapat sebuah lubang yang menjadi tempat air. Air dalam Leusong ini berasal langsung dari Krueng Daroy yang sekarang dipisahkan oleh tembok tinggi dengan taman ini.
 Leusong

       Setelah melihat-lihat sebentar dan kali ini pergi tanpa foto, kami pun melanjutkan perjalanan ke sebuah bangunan berbentuk persegi empat yang disebut Kandang Ghairah. Kandang Ghairah atau biasa di sebut Kandang saja, merupakan tempat dimakamkannya Sultan Iskandar Tsani (menantu Sultan Iskandar Muda) yang sebelumnya digunakan sebagai tempat jamuan untuk makan siang Raja, Putroe, orang-orang istana serta rakyat. Sebelumnya, tempat ini memiliki atap dan atap tersebut dipercaya telah dirubuhkan oleh orang-orang Belanda, dan  menurut sejarah tempat ini disebut Kandang karena bentuknya yang persegi empat.  

Kandang               

       Menutup wisata kami di Kandang dengan mengambil beberapa gambar, kami pun menuju sebuah bangunan lain yang terlihat seperti Kantor atau Museum. Benar saja, setelah kami berada di dalamnya, disana terdapat beberapa foto dan benda peninggalan sejarah dan budaya Aceh. Benda-benda tersebut diantaranya adalah Puan, Rapa’i, Batu Nisan, senjata seperti Tombak, tempat perhiasan dan beberapa benda lainnya. Setelah melihat dan mengambil beberapa gambar (lagi) di tempat ini, kami pun berkumpul dan kembali ke Taman Putroe Phang untuk melanjutkan kelas menulis. Seperti judulnya, di kelas menulis ini tentu saja kami diminta untuk menulis dalam bentuk apa saja dan kali ini mengenai kegiatan yang telah kami lakukan. Kami hanya diberi waktu kurang lebih 30 menit, dan alarmnya adalah azan Ashar. Setelah duduk menjauh dan melakukan pertapaan yang tidak penting, akhirnya Saya memutuskan untuk menulis tentang perjalanan hari ini dan Taman Sari Gunongan. Sebuah perjalanan sarat makna yang membuat tulisan Saya sekarang mau tidak mau bertengger di blog dan siap-siap di bombardir.

***
       Perjalanan kali ini bagi Saya sangat luar biasa. Bukan hanya tentang sejarah yang semakin menambah pengetahuan Saya, tapi juga tentang kebersamaan, semangat dan keceriaan FLP-ers yang tiada tandingannya. Karena seperti yang sering dikatakan oleh kebanyakan orang, bahwa sejatinya keindahan suatu tempat tidak hanya terletak pada tempatnya, namun pada kebersamaan yang dirasakan orang-orang di dalamnya. Semoga ke depan akan ada perjalanan lain dengan makna yang lebih melimpah ruah dan kebersamaan yang tetap menyala.

Banda Aceh, 27 April 2014
-cha-

Selasa, 22 April 2014

Sang Pelatuk dan Cemaranya.




Lissa Bella Rina Putri featuring Tomi Ibnu Yusri Ibn Yusuf.



Ketika Pelatuk bertemu Cemara, masih ada segan. 
Sehingga hening. 
Bahkan ketika Cemara telah memanjangkan dahan berharap, pelatuh hanya diam terkesiap. 
Ya, karena Cemara telah semakin semampai dengan dahan jenjangnya itu. 
Tapi, Pelatuk masih sama seperti yang dulu. 
Merasa ‘kecil’ dalam balutan bulu merahnya yang megah.
Cemara terdiam dan menunduk…

Ah, Pelatuk selalu merendah diri. Padahal Cemara tau, cakarnya kini telah makin kuat untuk mencengkeram dahan-dahan Cemara yang indah. 
Dan paruhnya.? Mungkin tak setajam elang, tapi mampu membuat Cemara menjadi serpihan-serpihan kecil yang dapat terbang.
Pelatuk hanya bertengger manis dan menengadah langit. 
Duhai Cemara, tak taukah kau..? bulu-bulu merah ini cukup menutupi luka perkelahianku dengan masalah. 
Aku tau, dahanmu memiliki kekuatan untuk menyembuhkan. 
Tapi..bagaimana aku akan memulai.?
 Cemara meneteskan embun yang masih tersisa di helaian daunnya, merasa perih.

Pelatuk..cukuplah kau hinggap disini, di dahan manapun yang kau mau dan berikan cengkeraman yang membuatku yakin, kau tak akan berpindah sarang.
Bagaimana jika nanti telah banyak yang bertengger di rantingmu..? elang mungkin? Rajawali? Atau beo yang rajin bicara.? Atau cenderawasih dengan ekornya.? Pelatuk masih meragu.
Biarkan Aku memilih Pelatuk. Bisa jadi aku tetap memilihmu. Karena elang, kasar cengkeramannya membuatku sakit. 
Rajawali.? dia terlalu suka berpetualang. 
Aku terganggu dengan celotehan beo yang tidak akan pernah berhenti. 
Cenderawasih.? Ah, ia tak pantas untukku. Ia akan selalu dan lebih bersinar, bahkan ketika aku dibawah sinar mentari. 
Dan kau..? aku cinta sesuatu yang sederhana sepertimu.

Pelatuk berpaling, menatap Cemara dengan pandangan yang ia sendiri tak mengerti apa artinya. 
Yang ia pahami, mulai saat itu, ia akan tetap disitu, menjaga cengkeramannya pada Cemara, mematuk paruh kecilnya dan tinggal.