Senin, 21 April 2014

Mengejar Panitia



Salam Menulis..!!

Well, sebenarnya saya mau menulis tentang keseluruhan pengalaman saya di inaugurasi FLP, berbagi tentang perasaan saya seperti teman-teman lainnya. Tapi ya, seperti kekurangan yang sampaikan kepada Bang R.H Fitriadi, saya terlalu tidak percaya diri jika harus menulis sesuatu yang sudah pernah disampaikan orang lain (temanya). Dan ternyata inaugurasi selama 3 hari 2 malam belum cukup untuk menghilangkan perasaan itu, tapi tak apa saya akan belajar. Jadi, daripada daripada, akhirnya saya memilih untuk menulis pengalaman khusus saya dengan beberapa orang yang ada di inaugurasi. Berikut ceritanya..

Hari itu, ketika panitia mengatakan bahwa salah satu kewajiban setiap peserta selama inaugurasi adalah harus mewawancarai salah satu panitia inaugurasi, saya langsung panik. Bagaimana tidak, saya paling susah jika harus memulai percakapan dengan orang yang belum saya kenal, untuk tujuan tertentu, wawancara misalnya. Tapi karena ini kewajiban, saya pun mau tidak mau harus mau melakukannya. Mulailah saya memutar kepala searah jarum jam dan memikirkan kandidat untuk diwawancara. 

Kandidat pertama yang terpikir untuk diwawancara adalah Kak Nuril Annisa, sang pemimpin FLP Aceh. Tapi rasanya, seseorang sekaliber beliau, pastilah sudah banyak “pengejarnya”. Saya pun menyerah dan mencoret nama Kak Nuril di buku saya. Saya semakin panik dan bingung.

 Akhirnya, setelah sekian lama bersemedi di kamar mandi, bersihin bak, dan manjat pohon belakang kamar, saya memutuskan untuk mewawancari Isni Wardaton, karena dia satu-satunya panitia perempuan yang sudah saya kenal sebelum inaugurasi. Esok harinya, setelah mempersiapkan pertanyaan-pertanyaan, saya datang ke Aula, lalu mencari Isni. Nah, kebetulan dia ada di depan Aula. Saya langsung mendekati dan dengan spontannya bertanya “Kak Nuril sibuk gak..?”. Isni melihat saya dan bilang ke salah satu panitia di meja depan “Jeh, lihatlah dia”. Saya pun kebingungan, dan melihat Isni juga panitia satunya (yang terakhir saya tau bernama Fanny). Beberapa detik kemudian, saya pun tersadar bahwa saya SALAH PANGGIL NAMA para pemirsa sekaliaan. Rasanyaaa muka saya langsung berubah jadi kotak kaya Spongebob. Akhirnya dengan gaya ngambek Isni pun berlari dan bilang “gak mau aku...gak mau”. Saya yang malu dan kebingungan langsung mengikuti dan berkata “kak maaaf..salah nama. Mau yaa di wawancara”. Sambil berjalan dan tersenyum nakal Isni menjawab “nanti ya liat dulu, udah ada yang carter soalnya”. Tadaa.....! jadilah saya gagal mewawancarai Isni Wardaton.

Baiklah, tak kan lari gunung dikejar, begitu kata nenek saya dari belanda. Pasti ada panitia yang tak kan lari kalau saya minta wawancara. Kandidat selanjutnya, mister Riazul Iqbal Pauleta. Alasannya..?. Beliau juga saya kenal sebelum inaugurasi. Tapi apa yang terjadi para pemirsah sekalian..? tanpa harus saya kejar pun, pagi itu mister Rio sudah lari dengan sepeda motor bersama mister Muarief kalau saya tak salah tengok. Gagal maning..gagal maning. Berakhirlah cerita saya yang singkat dengan bang Rio. #LaH

Akhirnya, dengan muka manyun dan berbekal keberanian yang tak ada itu serta semangat mengejar yang mulai menipis, saya mendekati panitia berkerudung pink di meja depan, tersenyum, dan dengan suara gemetar (mudah-mudahan waktu itu ga terdengar gemetar) saya bertanya, “kak, namanya siapa”..?. “Fanny”, jawab beliau. “Boleh saya ajak ngobrol..? mau wawancara sedikit”. “hmm, boleh, tapi jangan sekarang ya, kakak lagi sibuk”, jawab beliau ramah. “Oh, oke kak. Nanti saya kemari lagi. Tapi beneran boleh kan kak..?”, tanya saya meyakinkan (takut lari lagi). “Iya”, jawab beliau memastikan. Yeeee...! saya senang sekali. Rasanya mau joget caesar saking senangnya. Akhiiirnya saya ketemu panitia yang tidak lari, dan jadilah beliau sang pahlawan yang saya wawancarai. Untuk tau siapakah pahlawan di hari kemerdekaan, eh hari inaugurasi itu, berikut dengan sangat senang hati akan saya beberkan ke media identitas beliau. Cekidrooot..!!

Sang pahlawan ini bernama Fanny Tasyfian Mahdy. Dilahirkan dengan mempesona di Calang, tanggal sekian, bulan sekian, tahun sekian Setelah Masehi. Beliau concern menulis artikel, dan menulis apapun untuk mencurahkan pikiran, emosi dan pendapat. Salah satu author kutipan favorit saya di hari inaugurasi, bahwa “Tulisan akan membekas lama, lebih abadi dibandingkan ucapan yang akan hilang disebabkan batas pikir manusia”. Nah, akhirnya jadilah saya keluar dari lokasi inaugurasi dengan mengumpulkan tugas wawancara yang luar biasa itu.  

Saya, LissaBellaRinaPutri melaporkan secara tidak langsung dari lokasi kejadian.

Salam EsCeTePe.!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar