Salam Menulis..!!
Well, sebenarnya saya mau menulis
tentang keseluruhan pengalaman saya di inaugurasi FLP, berbagi tentang perasaan
saya seperti teman-teman lainnya. Tapi ya, seperti kekurangan yang sampaikan
kepada Bang R.H Fitriadi, saya terlalu tidak percaya diri jika harus menulis
sesuatu yang sudah pernah disampaikan orang lain (temanya). Dan ternyata
inaugurasi selama 3 hari 2 malam belum cukup untuk menghilangkan perasaan itu,
tapi tak apa saya akan belajar. Jadi, daripada daripada, akhirnya saya memilih
untuk menulis pengalaman khusus saya dengan beberapa orang yang ada di
inaugurasi. Berikut ceritanya..
Hari itu, ketika panitia
mengatakan bahwa salah satu kewajiban setiap peserta selama inaugurasi adalah harus
mewawancarai salah satu panitia inaugurasi, saya langsung panik. Bagaimana tidak,
saya paling susah jika harus memulai percakapan dengan orang yang belum saya
kenal, untuk tujuan tertentu, wawancara misalnya. Tapi karena ini kewajiban,
saya pun mau tidak mau harus mau melakukannya. Mulailah saya memutar kepala
searah jarum jam dan memikirkan kandidat untuk diwawancara.
Kandidat pertama yang terpikir untuk
diwawancara adalah Kak Nuril Annisa, sang pemimpin FLP Aceh. Tapi rasanya,
seseorang sekaliber beliau, pastilah sudah banyak “pengejarnya”. Saya pun
menyerah dan mencoret nama Kak Nuril di buku saya. Saya semakin panik dan
bingung.
Akhirnya, setelah sekian lama bersemedi di
kamar mandi, bersihin bak, dan manjat pohon belakang kamar, saya memutuskan
untuk mewawancari Isni Wardaton, karena dia satu-satunya panitia perempuan yang
sudah saya kenal sebelum inaugurasi. Esok harinya, setelah mempersiapkan
pertanyaan-pertanyaan, saya datang ke Aula, lalu mencari Isni. Nah, kebetulan
dia ada di depan Aula. Saya langsung mendekati dan dengan spontannya bertanya “Kak
Nuril sibuk gak..?”. Isni melihat saya dan bilang ke salah satu panitia di meja
depan “Jeh, lihatlah dia”. Saya pun kebingungan, dan melihat Isni juga panitia
satunya (yang terakhir saya tau bernama Fanny). Beberapa detik kemudian, saya
pun tersadar bahwa saya SALAH PANGGIL NAMA para pemirsa sekaliaan. Rasanyaaa muka
saya langsung berubah jadi kotak kaya Spongebob. Akhirnya dengan gaya ngambek
Isni pun berlari dan bilang “gak mau aku...gak mau”. Saya yang malu dan
kebingungan langsung mengikuti dan berkata “kak maaaf..salah nama. Mau yaa di
wawancara”. Sambil berjalan dan tersenyum nakal Isni menjawab “nanti ya liat
dulu, udah ada yang carter soalnya”. Tadaa.....! jadilah saya gagal
mewawancarai Isni Wardaton.
Baiklah, tak kan lari gunung
dikejar, begitu kata nenek saya dari belanda. Pasti ada panitia yang tak kan
lari kalau saya minta wawancara. Kandidat selanjutnya, mister Riazul Iqbal
Pauleta. Alasannya..?. Beliau juga saya kenal sebelum inaugurasi. Tapi apa yang
terjadi para pemirsah sekalian..? tanpa harus saya kejar pun, pagi itu mister
Rio sudah lari dengan sepeda motor bersama mister Muarief kalau saya tak salah
tengok. Gagal maning..gagal maning. Berakhirlah cerita saya yang singkat dengan
bang Rio. #LaH
Akhirnya, dengan muka manyun dan berbekal
keberanian yang tak ada itu serta semangat mengejar yang mulai menipis, saya
mendekati panitia berkerudung pink di meja depan, tersenyum, dan dengan suara
gemetar (mudah-mudahan waktu itu ga terdengar gemetar) saya bertanya, “kak,
namanya siapa”..?. “Fanny”, jawab beliau. “Boleh saya ajak ngobrol..? mau
wawancara sedikit”. “hmm, boleh, tapi jangan sekarang ya, kakak lagi sibuk”, jawab
beliau ramah. “Oh, oke kak. Nanti saya kemari lagi. Tapi beneran boleh kan
kak..?”, tanya saya meyakinkan (takut lari lagi). “Iya”, jawab beliau
memastikan. Yeeee...! saya senang sekali. Rasanya mau joget caesar saking
senangnya. Akhiiirnya saya ketemu panitia yang tidak lari, dan jadilah beliau
sang pahlawan yang saya wawancarai. Untuk tau siapakah pahlawan di hari
kemerdekaan, eh hari inaugurasi itu, berikut dengan sangat senang hati akan
saya beberkan ke media identitas beliau. Cekidrooot..!!
Sang pahlawan ini bernama Fanny
Tasyfian Mahdy. Dilahirkan dengan mempesona di Calang, tanggal sekian, bulan
sekian, tahun sekian Setelah Masehi. Beliau concern menulis artikel, dan
menulis apapun untuk mencurahkan pikiran, emosi dan pendapat. Salah satu author
kutipan favorit saya di hari inaugurasi, bahwa “Tulisan akan membekas lama,
lebih abadi dibandingkan ucapan yang akan hilang disebabkan batas pikir manusia”.
Nah, akhirnya jadilah saya keluar dari lokasi inaugurasi dengan mengumpulkan
tugas wawancara yang luar biasa itu.
Saya, LissaBellaRinaPutri
melaporkan secara tidak langsung dari lokasi kejadian.
Salam EsCeTePe.!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar