Minggu, 04 Mei 2014

Lagi, ini tentang Cinta



Karena cinta adalah penggerak utama seluruh jagat raya.

            Banyak orang yang mempermasalahkan kegiatanku sebagai guru. Baik sebagai guru PAUD, guru les, atau guru apapun itu.  Kata mereka, “ngapain capek-capek kuliah di Fakultas Psikologi kalau ujung-ujungnya jadi guru PAUD”, atau “ngapain jadi Sarjana kalau cuma ngajar PAUD”, dan cemoohan senada lainnya. Tidak sedikit juga yang berusaha menggodaku karena bertahan pada ranah yang sama ; mengajar. Mereka sering bilang “kerja di Bank aja Cha, gajinya lebih besar”, atau “kenapa sih mesti ngajar, gajinya kecil gitu”, dan blablabla.
            Bagiku (dan bagi orang-orang yang mencintai pekerjaanya), ini bukan hanya tentang jumlah rupiah, bukan juga tentang titel kesarjanaan. Ada hal lebih berharga dari sekedar kedua hal itu, yang akhirnya menjadi alasan pertamaku memilih menjadi guru. Ini tentang sebuah perasaan yang mampu membuat bumi dengan setia menghabiskan 365 hari hanya untuk mengitari matahari. Tentang keinginan untuk terus berinteraksi dengan hal-hal dan sosok-sosok yang entah bagaimana, membuat kita rindu. Tentang  perasaan Aku-akan-melakukan-apa-saja. Ya, ini tentang cinta dan menuangkannya.
            Di sini, Aku jatuh cinta. Jatuh cinta pada wajah-wajah yang penasaran setiap saat Aku bercerita tentang hal-hal yang belum pernah mereka dengar. Jatuh cinta pada ekpresi-ekspresi yang mereka perlihatkan, dan jatuh cinta pada rasa bangga karena Aku dipercaya. Semua akan kita lakukan sebagai pecinta bukan.? Seperti yang diungkapkan Rumi, “Jika gunung dan bumi bukan pecinta, tentu rumput takkan tumbuh dari dada mereka,”. Lalu adakah hal lain yang mampu menggerakkanmu dengan tulus selain cinta.?
            Baiklah, mari bicara kebenaran yang bukan hanya kebetulan. Sejujurnya, ada empat alasan kenapa Aku memilih menjadi guru. Alasan pertama dan yang paling pasti, sudah kujelaskan. Alasan kedua, menjadi guru itu tidak ada istilah enak ngajar disana, enggak enak ngajar disini. Karena mengajar (harusnya) bukan untuk atasan. Aku mengajar untuk mereka ; anak-anak yang nantinya menjadi generasi pengubah tanah ini, bangsaku sendiri. Meskipun kita tidak bisa menyangkal bahwa lingkungan tempat bekerja juga berpengaruh pada performa, tapi tetap saja itu bukan faktor utama.
            Alasan ketiga, Aku terlahir dengan kemampuan bicara diatas rata-rata (red. Cerewet). Rasanya tidak ada kegiatan yang lebih baik untuk “kemampuanku” selain mengajar. Menjadi seorang penyiar atau presenter..? Aku tak se-PD itu. Menjadi motivator.? Aku takut Mario Teguh Golden Ways diganti menjadi Lissabella No Golden No Ways, kan tak enak sama opa. Jadi, mengajarlah solusinya. Aku bahagia, Aku berpahala (kaya iklan rokok yah).
            Dan alasan yang tidak kalah penting dari itu semua adalah karena satu diantara tiga perkara yang tidak akan terputus denganku ketika nanti akhirnya Aku mati ; ilmu yang bermanfaat. Bagiku, diantara tiga perkara yang tidak terputus itu, perkara yang satu ini lah yang paling mampu kulakukan dari sekarang. Anak-anak yang shaleh.? Tidak ada yang bisa memastikan Aku mati setelah menikah dan punya anak bukan.? Setelah menikah pun, tidak ada yang berani menjamin Aku punya anak. Bahkan punya anak pun, tidak ada juga yang bisa memastikan Aku akan mampu mendidik mereka menjadi anak-anak yang shaleh. Perkara sedekah..? Ah, mungkin kalau amalan yang satu ini punya buku sendiri, pastilah catatannya masih belum sampai setengah, bahkan mungkin tidak sampai seperempat.
       Disinilah Aku sekarang. Menjadi salah satu dari milyaran orang yang memilih untuk berjuang menaburkan benih-benih ilmu yang (semoga) bermanfaat, dan menabungnya untuk bekal kelak di akhirat. Setidaknya, kalau nanti Aku mati dan tiba-tiba ada ular yang mau mengigit, ada sesuatu yang menahan dan bilang “hai Ular jangan gigit dia.! Karena jasanya dulu anak-anak itu jadi tau kalau buy itu bacanya bai, bukan bui.” Atau tiba-tiba ada tangan yang mencekik ular itu dan bilang “jangan berani macam-macam sama Icha, beliau dulu mengajarkan anak-anak baca Iqra, dan sekarang anak-anak itu sudah kuliah di mesir dan menjadi imam.” Dan semoga saja di hari pembalasan nanti, ketika setiap jiwa sudah ditentukan “rumah”nya sesuai dengan bekal yang mereka bawa dari dunia, ketika semua amalan sudah punya muara, salah satu dari murid-muridku datang dan menarikku ke sana ; Surga. (Amin).
            Maka, terlepas dari profesi apapun, alasan sejenius apapun yang menjadi patokan saat profesi itu menjadi pilihan, semuanya takkan dianggap ada jika di dalamnya tak ada cinta. Jadi, kutegaskan sekali  lagi agar kalian tak lupa, bahwa ini tentang cinta. Di atas segalanya. 

Banda Aceh, 5 Mei 2014.
Di sebuah sekolah, di antara wajah-wajah polos yang selalu ceria.

17 komentar:

  1. love what you do, and do what you love ;)

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. kak ca, jd tringat adek2 yg cekikikan dketin kak ca :D kayak besi & besi berani, adek2nya tiba2 mndekat ke arah kak ca, bahkan ada yg cokeh cekikikan krn suka sma gaya kk pas ngobrol ma org ni

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe.. yang di Putroe Phang yaa..? Begitulah anak-anak, malu tapi sebenarnya mau. :D

      Hapus
  4. keren kakaaaak.... things happen for a reason. hati kakak udah memilih untuk jatuh cinta sama dunia belajar-mengajar. sukses terus kak ;))

    BalasHapus
  5. Hehe makasih adek. Terima kasih juga buat doanya. Semoga ya.. :)

    BalasHapus
  6. Sugoi ne. Two thumbs up Kak Icha. ^^d

    BalasHapus
  7. kha kha :D ada yg curhat :P

    BalasHapus
    Balasan
    1. That's what a blog for :p.
      baideway, makasih ya koment mahalnya. haha

      Hapus
  8. Baru tw klau kak icha guru paud.....kak sx2 tlis jga ttg pnglmannya jd guru paud, msalnya ttg tngkah lucu anak didiknya.
    Tp utk ini udh kereeenn!

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehhe.. iya nnti lah d posting ya ceritanya. :D

      Hapus
  9. cintailah profesimu, maka kamu seakan-akan tidak sedang bekerja. (kutipan)

    yeaa, asyiknya jadi guru. menjadi guru impian saya semenjak kecil yang sepertinya belum kesampaian ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah..senang rasanya ternyata masih ada laki-laki yang benar-benar ingin jadi guru. Karena sepertinya sekarang kebanyakan guru adalah perempuan. :D.
      Semoga nanti bang Azhar bisa jadi guru, atau malahan punya sekolah sendiri kaya di Film 3 Idiots. :D

      Hapus
  10. Do what you love
    Love what you do
    Nice sharing Icha ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Huwaaaaaa... dua tahun setelah dikoment baru buka lagii.. btw, makasih kak eky... biarpun udah telat amat sangat..huhuhu. :(

      Hapus