Salah satu hal
yang paling kuingat pada masa kecil adalah kesenanganku memanjat pohon jambu. Dulu,
setiap kali pohon-pohon jambu di rumah tetangga berbuah (pohon jambu di rumahku
patah waktu gempa tsunami, hiks), Aku dan kawan-kawan pasti akan datang
beramai-ramai dan memanjat. Biasanya kami akan memakai baju atau celana – rok besar,
supaya jambunya dapat banyak.
Nah, begini tips
yang sangat jitu kalau ingin dapat jambu dengan mudah dari tetangga. Pertama, datang
baik-baik dan pasang wajah innocent,
lalu mulai.!
“Assalamualaikuuummm..
buuk ooo buk. Kami mau beli jambunya boleh buk..?” (Objek boleh diganti sesuai
situasi dan kondisi).
Sesuai
pengalaman, biasanya sang pemilik pohon akan datang dan menjawab seperti ini
“waalaikumsalam.
Jambu mana..? Itu jambunya ga dijual nak”.
Lalu pasang muka
sedih-putus asa-ingin bunuh diri sambil bilang
“ooo ga dijual ya buk. Tapi kami pengen beli,
boleh buk..?”
Dan sesuai
dugaan, sang pemilik pohon akan menjawab begini
“udah, ngapain
dibeli. Ibu ga jual. Ambil aja terus”
“horeeeeee....!!!”.
Hilang sudah muka malaikatnya.
Baiklah, kembali
ke pembahasan, karena kita sedang tidak bicara trik menghabiskan jambu
tetangga. Setelah sampai di atas, masing-masing kami akan berusaha mengambil
jambu yang bergelantungan dan memasukkanya ke dalam baju atau memegangnya
dengan tangan. Masalahnya, kalau buah-buah jambu itu sudah banyak kami tak tau
mau meletakkan mereka kemana lagi. Kalau sudah begini, mulailah kami menyusun
strategi perang dan hasilnya, jadilah salah satu diantara kami sebagai relawan
penangkap jambu di bawah. Si relawan itu nanti akan mulai mengangkat dan
merentangkan bajunya sedikit (gatau jelasinnya gimana) dan menangkap jambu yang
kami lemparkan. Kalau cara ini pun sudah tak bisa lagi, mulailah kami memilih
jambu mana yang diambil, dan jambu mana yang-terpaksa dengan sangat kecewa- kami
biarkan tetap di pohonnya. Begitulah setiap musimnya, sampai tamat SD. :D
Baiklah teman-temanku
sebangsa dan setanah air, seiman dan seagama, sekampung dan sekota, tujuan
tulisan yang luar biasa ini dibuat bukanlah tentang buah jambu, karena saya yakin
teman-teman lebih profesional dari saya kalau soal ini. Tapi ini cerita tentang
mimpi, mimpi buah jambu. Kenapa mimpi buah jambu? Karena jika boleh kita ibaratkan,
mimpi-mimpi kita adalah jambu-jambu tadi dan pohon jambu itulah pohon mimpi
kita. Namun ada perbedaan antara dua pohon ini, kalau pohon jambu hanya bisa
menghasilkan sesuatu yang jenisnya sama ; buah jambu. Sedangkan pohon mimpi
kita..? kita bisa memilih “buah mimpi” apa yang ingin kita gantungkan dan
jenisnya bisa berbeda-beda.
Seperti proses
mengambil buah jambu tadi, ada mimpi-mimpi yang bisa kita raih dan wujudkan bersamaan
oleh diri kita sendiri, namun ketika mimpi itu terasa terlalu sulit bahkan tidak
mungkin diwujudkan sendirian, maka kita butuh orang lain yang punya “buah mimpi”
yang sama lalu berbarengan mewujudkannya. Misalnya, mimpi memiliki anak-anak
yang shaleh hanya bisa diwujudkan jika kita “berbarengan” dengan orang lain ;
menikah (eaaaak). Lalu, juga ada mimpi-mimpi yang harus kita tunda dulu meraihnya.
Bukan karena kita mau menunda-nunda hal baik, tapi karena ada mimpi lain yang
sudah kita pilih dan harus diselesaikan terlebih dahulu. Misalnya, ada yang mau
mewujudkan mimpinya menjadi guru di daerah terpencil lalu ikut program pemerintah,
maka akhirnya ia harus menunda mimpinya yang lain. (Apa mimpi yang ditunda..?
tergantung kontrak kerja :D)
Hebatnya lagi pohon
mimpi kita ini, buah-buahnya tidak akan busuk atau terlalu masak dan leubah*. Jadi, tidak ada istilah “ambil terus, nanti
busuk”. Tidak usah gusar, biarkan ia tetap di dahannya dan semakin matang.
Bahkan bisa jadi, mimpi yang kita wujudkan sebelumnya, malah menjadi jalan
meraih buah-buah mimpi yang masih bergelantungan itu. Dan yang paling penting,
buah-buahnya juga tidak bisa sembarangan diambil oleh anak-anak tak bertanggung
jawab yang bermodus mau beli seperti kami-kami ini. Karena ini, pohon mimpi. Dan
mimpi tak bisa dijual beli.
Ps. Tingkat
usaha yang paling ekstrem untuk dapat jambu yang banyak adalah membawa kain
sarung lalu dua orang akan merentangkannya di bawah dan jadi semacam jaring
untuk menampung jambu yang dilempar. :D
Banda Aceh, 9 Mei 2014
*Leubah itu
istilah untuk buah yang sudah terlalu masak (kalau EYD-nya tidak salah)

keren kak tulisan nyaa,, :)
BalasHapustapi mimpi-mimpinya kenapa gak dicantumkan yaa??
makasih Helka..
Hapushehheee.. nanti deh di postingan yang lain. Belum berani posting yang mimpi2 itu. Semoga segera menyusul hihih
Yaa, betul itu Helka :-)
BalasHapus#segera ya disusulkan
Hehehee.. Doakan yang bang, segera. :D
Hapusinspiratif kak ca.. :) analoginya keren...
BalasHapusMakasih sayaang.. *hug
HapusEum, soal penjelasan terakhir: Leubah khan bahasa Aceh, ya ndak dapat kita cari di EYD ... (hehe, kidding)
BalasHapusMaksudnya EYD dalam bahasa Acehnya bang. Ntah iy puun Leubah tulisannya begitu. :D
HapusMimpi yang besar, ya bentangkan kain sarung...,.,hehe
BalasHapusayo kita raih mimpi kita :D
lanjutkan!
Hehe..iya yaa, biar mimpinya bisa lebih banyak dapatnya. :D
HapusSelamat bermimpi..!! ^_^
Btw Mursal, sepertinya saya kenal Anda. Benarkah..? :)
oyaaa?hehe
Hapuskenal dimana? bisa jadi :D
Mursal anak mana..? Di bimbel apa ya..?
Hapustulisan kakak keren (Y)
BalasHapusmampir di rumah saya juga kak ya http://negeridalamaksara.blogspot.com/
Terimakasih Yusri.. Iya, insya allah segera ke TKP :D
Hapus