sebenarnya ini tulisan aneh jaman dulu di blog lama yang udah penuh sama sarang laba2, dan tiba2 pengen di re-post d blog ini. :D.
Aku meninggalkan'a setelah dia tertidur krn rasa lelah. Waktu itu sudah jam 10 malam. Sudah saat'a aku pulang. Anak2 ku pasti bingung menanti bunda'a yg seharian tak dirumah. Ketika ingin menutup pintu, aku memandang ke arah alya yg sedang tertidur dan berkata "اَللّه tau apa yg terbaik untukmu Al".
Aku berbalik, mematung, diam dan tiba2 bergumam "apakah yg terbaik bagiku nanti Чα̲̅α̅ اَللّه.?"
aku tak mampu dan tak berani b'andai-andai. Karna "اَللّه tau yg terbaik.
"Alya cemburu"..? Azha
bertanya padaku dengan raut wajah seolah tak percaya. "Iy,
kenapa..?". Aku balik bertanya sambil tetap menikmati bubur ayam
favoritku. "Чα̲̅α̅ ampun Annisa...Irma dan Ardi tu cuma
rekan kerja". "Rekan
kerja..??!!!" Batinku mengerang mendengar jawaban santai dari sahabat
tercinta ku ini. "Rekan kerja apa bisa sampai satu ruangan berdua, bahkan
dinas keluar kota dan nginap di satu kamar yg sama"? Apa kantor kalian segitu miskin'a zha..? Azha hanya
diam. Dia hanya memandangku dgn raut wajah yg tak ku mengerti, namun aku
tau pasti Α∂a̲̅ "sesuatu yg disembunyikan dariku
dan dari sahabatku, Alya'. Tiba2 dia bersuara "itu peraturan kantor
Sa". Aku memandang'a, melongo dan
sadar kalau raut wajah dan jawaban darinya tidak bekerjasama dgn baik. Perasaan
ku makin tak karuan. Aku hanya menghela napas dan berkata unt diriku sendiri
"semoga Alya mengerti itu peraturan kantor".
Sepulang dari kantor aku langsung
menuju ke rumah Alya yg disambut oleh wajah sendu wanita hebat itu. Dia
mengatakan sesuatu yg membuat otakku membeku. "Suamiku selingkuh".
Hanya kata2 itu yg kudengar dari bibir tipis tmanku ini. Suara'a m'isyaratkan rasa sakit yg tak mampu lagi diungkapkan secara fisik. "Terus km ngmng apa"..? Aq bertanya dengan rasa ragu dan sedikit waspada dgn respon'a. Dia tak menjawab, hanya memandangku dengan tatapan kosong yg membuat perasaanku tercabik2 sebagai perempuan. Aku tahu jawaban dari pandangan mata'a. "Aku pasrah Sa".
Kulihat bibir tipis itu bergetar, mata bening'a tak lagi memantulkan bayanganku. Чα̲̅α̅, dia menangis. Tangisan yg mungkin telah sekkian lama dia tahan. Sejak kapan.? Ah, aku tak tau kawan.
Aku tak punya kekuatan unt mengembalikan waktu dan membuat'a tak menikah dgn laki2 itu. Aku hanya mampu menggenggam tangan'a, merasakan sedikit apa yg dia rasa, dan diam. Чα̲̅α̅, aku hanya mampu diam kawan. Alya duduk di sisiku sambil menangis dan membisu...
Hanya kata2 itu yg kudengar dari bibir tipis tmanku ini. Suara'a m'isyaratkan rasa sakit yg tak mampu lagi diungkapkan secara fisik. "Terus km ngmng apa"..? Aq bertanya dengan rasa ragu dan sedikit waspada dgn respon'a. Dia tak menjawab, hanya memandangku dengan tatapan kosong yg membuat perasaanku tercabik2 sebagai perempuan. Aku tahu jawaban dari pandangan mata'a. "Aku pasrah Sa".
Kulihat bibir tipis itu bergetar, mata bening'a tak lagi memantulkan bayanganku. Чα̲̅α̅, dia menangis. Tangisan yg mungkin telah sekkian lama dia tahan. Sejak kapan.? Ah, aku tak tau kawan.
Aku tak punya kekuatan unt mengembalikan waktu dan membuat'a tak menikah dgn laki2 itu. Aku hanya mampu menggenggam tangan'a, merasakan sedikit apa yg dia rasa, dan diam. Чα̲̅α̅, aku hanya mampu diam kawan. Alya duduk di sisiku sambil menangis dan membisu...
Aku meninggalkan'a setelah dia tertidur krn rasa lelah. Waktu itu sudah jam 10 malam. Sudah saat'a aku pulang. Anak2 ku pasti bingung menanti bunda'a yg seharian tak dirumah. Ketika ingin menutup pintu, aku memandang ke arah alya yg sedang tertidur dan berkata "اَللّه tau apa yg terbaik untukmu Al".
Aku berbalik, mematung, diam dan tiba2 bergumam "apakah yg terbaik bagiku nanti Чα̲̅α̅ اَللّه.?"
aku tak mampu dan tak berani b'andai-andai. Karna "اَللّه tau yg terbaik.
Markas Dunia Anak, 25 nov 2011.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar