Senin, 18 Februari 2013

Dia dan metamorfosanya.


Yang akan kalian baca ini adalah catatan kecil tentang seorang teman kecil yang tidak lagi kecil.
Happy Reading.. ^_^
Metamorphosis. Apa yang terlintas di pikiran kalian saat membaca kata itu..?. Benar, Perubahan bentuk. Sebagian dari kalian mungkin akan tiba-tiba kembali ke kelas dasar dan mengingat pelajaran tentang kupu-kupu. Dari ulat, lalu menjadi kepompong, dan akhirnya menjadi kupu-kupu. Ya, berubah bentuk. Hampir semua motivasi tentang perubahan hidup juga menggunakan teori kupu-kupu ini. Kenapa.? Karena metamorphosis di hidup kita, tidak hanya berbicara tentang perubahan fisik, tapi tentang artian yang lebih jauh lagi, tentang bagaimana kita berproses untuk menjadi lebih baik. Dalam hal apapun, fisik, kognitif, afektif dan perilaku. 

Perubahan bentuk fisik adalah hal pasti. Tapi apakah seiring dengan kepastian itu, secara psikologis kita juga akan berubah.? Cara pandang kita terhadap dunia dan diri kita sendiri, prinsip tentang hidup dan mati, tentang eksistensi pencipta dan yang diciptakan, apakah semuanya juga berubah.? Jawabannya tergantung pada bagaimana kita melewati tahap metamorphosis dalam hidup kita. Bentuk akhir adalah manifestasi dari apa yang sudah kita lalui selama proses itu berjalan. Apa yang kita baca, apa yang kita dengar, lihat, serta bagaimana dan dengan siapa kita hidup. Fisik tidak bertanggung jawab akan hal ini. Karena manusia, bermetamorfosis dengan hati dan pikirannya. Sesuatu yang sifatnya tidak terlihat, tapi punya kekuatan yang luar biasa.

Well, aku mengenal seseorang yang (setidaknya bagiku) ntah dalam arti bagaimana, telah bermetamorfosis dengan luar biasa. Ia telah menggeliat dengan sempurna dari kepompongnya dan terbang dengan bebas, menikmati hasil dari prosesnya. Sebut saja namanya Beni, Beni Pantona. Bisa dibilang, Aku mengenalnya sejak kecil. Bukan mengenal dalam artian “sangat tahu”, tapi Aku kenal dia. Aku tahu sepak terjangnya pada dunia, dulu. Aku tau track recordnya di lingkungan. Dan jika Aku boleh kembali ke masa-masa 12 tahun yang lalu, rasanya tidak mungkin seorang Beni, anak kecil dengan tingkat kebandelan yang bisa masuk museum rekor dunia, yang dengan melihatnya saja bisa membuatmu ingin membunuhnya, menjadi seperti sekarang ini. Seorang Beni dengan kemampuan menulis yang (bagiku) sangat luar biasa. Setidaknya mampu membuat Aku menjadikan tulisannya sebagai sesuatu yang wajib ditelan, menjadi sangat menarik untuk dibaca dan ditunggu kedatangannya seperti Aku menunggu majalah BOBO edisi terbaru. Penasaran, apa lagi yang akan muncul disana. Mungkin tidak berlebihan jika Aku menyebutnya “calon penulis besar”. Bila kau sedang jatuh cinta, maka tulisannya akan membuatmu lebih jatuh lagi. Jika kau sedang patah hati, jangan coba-coba membacanya, atau kau tidak akan tau berserakan kemana kepingan hatimu tadi.

Saat pertama kali Aku membaca tulisannya di komatitik.wordpress.com, aku sudah tersihir dengan deskripsi kecilnya tentang komatitik, “kadang kita harus berhenti sejenak seperti sebuah koma, dan berakhir seperti sebuah titik”. Aku tidak bisa menemukan Beni kecil disana, tidak akan pernah. Disana hanya ada Beni Pantona, seorang lelaki muda dengan daya tarik tersembunyi, sedang mencoba meraih sesuatu, ntah itu apa Aku tidak tau. Seorang Beni yang punya “power” untuk mencintai, punya kasih untuk menyembuhkan, dan punya pesona untuk menaklukkan. Disana, Aku hanya menemukan Beni, Beni yang sekarang.
Bagi kalian, siapapun itu yang mengenalnya setelah berproses, mungkin akan mengatakan tulisannya bagus, kemampuan menulisnya hebat, imajinasinya luar biasa. Tapi bagiku, kami, orang-orang yang sudah mengenalnya sejak ia masih sebagai ulat kecil, menganggap ini “ajaib”. Bukan ajaib karena tulisannya bisa membuatmu kaya, bukan karena tulisan itu bisa menari-nari saat kau baca. Tapi karena tulisan itu, kata-kata itu, mantra-mantra itu, dilahirkan oleh seorang Beni Pantona.

Ya, seorang Beni yang dulu selalu kuanggap sebagai ulat bulu kecil yang mengganggu, telah berhasil memetamorfosiskan dirinya menjadi kupu-kupu. Gagah, indah. Dan sekali lagi, metamorphosis bukan hanya tentang fisikmu, tapi lebih jauh ke dalam itu, tentang dirimu.
Nikmati kepakan sayap gagahnya di www.omben.com. ^_^