Ini bukan tentang aku, beliau atau mereka. Ini tentang kita. Siapapun, yang
saat ini sedang berproses. Bangkit dari jatuhnya, berjalan dari diamnya,
menggenggam dari lepasnya.
Kita tidak bisa berjalan dengan masa depan jika masih menggenggam tangan masa lalu, iya kan.? Rasanya terlalu egois ketika kita berusaha bertahan pada sesuatu, sedangkan pencapaian kita bukan lagi itu. Bagaimana mungkin kita masih merasa perlu menggenggam dengan tangan yang satu sedangkan tangan yang lainnya sedang berusaha meraih genggaman yang baru.?
Masa depan kadang menampakkan dirinya terlalu pagi, saat kita masih pada tahap belajar melepaskan genggaman masa lalu. Sering kita berpikir bahwa kita tidak mampu melepaskan genggaman itu dengan spontan, saat tiba2 masa depan datang mengagetkan. Bukankah segala sesuatu di dunia ini butuh proses.? Atau memang kita yang berproses terlalu lama.? Atau memang....Ah, ntah. Kita hanya perlu memikirkan apa yang harus kita lakukan sekarang.? Belajar untuk melepaskan dengan cepat, berkompromi dengan proses dan memintanya melambat, atau mungkin masa depan yang kita tuntut untuk lebih sabar menunggu kita melewati proses.?
Intinya, apapun itu tetaplah berdiri di koridor masing-masing. As me, as a process, as a past, and as a future. Jika kita merasa perlu berbicara dengan yang lainnya, bicaralah. .
^_^
Dear Me.
Aku rasa sudah bukan waktunya bagi engkau berpegang pasa masa lalu. Ia sudah pergi seperti matahari yang tenggelam, maka biarkan ia tenggelam. Renggangkan jari-jari yang dulu pernah saling silang, rasakan bahwa jaraknya sudah semakin lebar dan menjauh. Ketika engkau merasa takut, jangan sekali-kali berusaha untuk menggenggam lagi, karena akan sia-sia. Tarik tanganmu perlahan-lahan, abaikan usahanya untuk mempertahankan. Ingat.!! Ia sudah tenggelam. Ikhlaskan. Lepaskan.
Aku rasa sudah bukan waktunya bagi engkau berpegang pasa masa lalu. Ia sudah pergi seperti matahari yang tenggelam, maka biarkan ia tenggelam. Renggangkan jari-jari yang dulu pernah saling silang, rasakan bahwa jaraknya sudah semakin lebar dan menjauh. Ketika engkau merasa takut, jangan sekali-kali berusaha untuk menggenggam lagi, karena akan sia-sia. Tarik tanganmu perlahan-lahan, abaikan usahanya untuk mempertahankan. Ingat.!! Ia sudah tenggelam. Ikhlaskan. Lepaskan.
^_^
Dear the past.
Terimakasih sudah pernah hadir. Ada banyak cerita yang membuat aku bersyukur atas kedatangan, dan sebaliknya juga ada alur yang aku menyesal pernah ada di dalamnya. But over all, thank u. Dan sekarang, biarkan aku melepaskan. Jangan pernah berusaha lagi menyentuhku bahkan dengan sentuhan paling halus sekalipun. Aku sedang berusaha mengisi jarak diantara mereka. Diantara jari-jari yang dulu pernah saling bersilangan. Diantara tangan yang dulu pernah saling menggenggam. Diantara hati yang dulu pernah saling merindu, menyayang dan mendoakan. Diantara bibir yang dulu pernah saling menyapa, memuji, dan berjanji. Diantara mata yang pernah saling berbagi cahaya. Diantara telinga yang pernah dengan setia saling mendengarkan, dan diantara semua yang pernah menjadi bagian diantara kita. Demi apapun diantara segala yang kita lewati, terimakasih dan selamat tinggal.
Terimakasih sudah pernah hadir. Ada banyak cerita yang membuat aku bersyukur atas kedatangan, dan sebaliknya juga ada alur yang aku menyesal pernah ada di dalamnya. But over all, thank u. Dan sekarang, biarkan aku melepaskan. Jangan pernah berusaha lagi menyentuhku bahkan dengan sentuhan paling halus sekalipun. Aku sedang berusaha mengisi jarak diantara mereka. Diantara jari-jari yang dulu pernah saling bersilangan. Diantara tangan yang dulu pernah saling menggenggam. Diantara hati yang dulu pernah saling merindu, menyayang dan mendoakan. Diantara bibir yang dulu pernah saling menyapa, memuji, dan berjanji. Diantara mata yang pernah saling berbagi cahaya. Diantara telinga yang pernah dengan setia saling mendengarkan, dan diantara semua yang pernah menjadi bagian diantara kita. Demi apapun diantara segala yang kita lewati, terimakasih dan selamat tinggal.
^_^
Dear the future.
Tidak banyak hal yang bisa aku sampaikan, karena kita bahkan belum diberi kesempatan untuk saling menggenggam. Aku hanya ingin memastikan, kau masih disana kan.? Masih menungguku.? Sabar yaa, aku sedang berproses dan ini tidak akan lama. Kau lihat kan.? Aku sedang berjalan ke arahmu. Hey..kau tersenyum..mengejekku ya.? Karena langkahku masih terseok-seok.? Aku sudah bilang ini tidak akan lama. Sebentar lagi, aku akan berjalan tegak bahkan berlari dan melompat ke arahmu. Sekarang, berjanjilah satu hal padaku. Ketika nanti aku disana, tetaplah bersamaku semudah dan sesulit apapun itu. Janji.? "Janji". .
Tidak banyak hal yang bisa aku sampaikan, karena kita bahkan belum diberi kesempatan untuk saling menggenggam. Aku hanya ingin memastikan, kau masih disana kan.? Masih menungguku.? Sabar yaa, aku sedang berproses dan ini tidak akan lama. Kau lihat kan.? Aku sedang berjalan ke arahmu. Hey..kau tersenyum..mengejekku ya.? Karena langkahku masih terseok-seok.? Aku sudah bilang ini tidak akan lama. Sebentar lagi, aku akan berjalan tegak bahkan berlari dan melompat ke arahmu. Sekarang, berjanjilah satu hal padaku. Ketika nanti aku disana, tetaplah bersamaku semudah dan sesulit apapun itu. Janji.? "Janji". .
I'll be there as
soon as i can. But i'm busy mending broken pieces of the life i had before.
Before you. (Muse, Unitended).
Banda Atjeh, 3
februari 2013.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar