Bestfriend is someone who helps you up
when you are down, and if they can’t help you up, they lay down and
listen.
Kutipan
itu kubaca di salah satu jejaring sosial dan
Aku sangat setuju. Karena Aku, pernah memiliki orang-orang seperti itu.
Mereka yang selalu memaksaku bangkit dari jatuh dengan cara apapun, tanpa
terkecuali. Mereka yang selalu tertawa karena ulah konyolku, atau kata-kataku
yang lucu. Mereka yang selalu mendukungku seperti keluarga, mereka yang marah
saat aku lalai dan berbuat salah, mereka yang dengan segala ketulusannya peduli
akan hidupku.
Ada saatnya ketika Aku lelah dan
merajuk. Ketika Aku benar-benar merasa tidak ingin bergerak. Dan disaat seperti
itupun, mereka tetap ada. Bukan lagi untuk membujukku, bukan lagi untuk
memaksaku. Tapi untuk melakukan hal yang kadang tidak kuduga. Mereka ada untuk
ikut membuka sepatu, melepaskan tas, dan ikut berbaring denganku. Tidak ada
kata, tidak ada pertanyaan, tidak ada intervensi. Semuanya hanya akan saling
mendukung dalam diam, saling menguatkan dalam genggaman.
Ya,
Aku pernah bersama mereka. Bersama orang-orang biasa dengan jiwa-jiwa luar
biasa itu. Bersama orang –orang yang bukan sekedar tau, tapi mengenal setiap
detail kecil dalam pribadiku. Bukan hanya sekedar detail kecil sebenarnya, tapi
juga sangat tidak penting untuk diingat. Seperti tanggal bulananku, sepatu apa
yang akan kupakai hari senin jika Pembina upacara’a bapak A, kira-kira besok
pagi rok yang kupakai akan robek sampai semana, atau kenapa hari ini bakso yang
kumakan banyak cukanya. Sekali lagi, aku pernah bersama orang-orang yang luar
biasa ini.
Aku pernah memiliki mereka secara
fisik. Tertawa bersama, tersedu dalam duka, saling menggoda, melakukan hal-hal
gila, saling berpelukan juga menjatuhkan. Dan sekarang, satu persatu pergi.
Bukan untuk menghilang, tapi karena hidup memang sudah mengatur itu. Pertemuan
untuk sebuah perpisahan, kepergian untuk langkah kembali. Masing-masing kami
sudah menemukan jalan menuju masa depan. Ada yang sudah menemukan jalan kesana berserta pendampingnya, ada yang masih
dengan sangat yakin mampu melakukannya sendiri, juga yang ingin didampingi tapi
masih harus sabar menunggu agar segalanya menjadi pasti.
^_^
Heri,
cicik, nanda, oky. Nama-nama yang tidak akan pernah ada satu orang pun mampu
menghapusnya. Siapapun yang jadi istri mereka nanti, aku harap adalah
wanita-wanita yang tau dan mengerti, bahwa mereka menikahi laki-laki dengan
jiwa-jiwa yang besar. Laki-laki dengan rasa “menghargai perempuan” yang luar
biasa. Laki-laki yang hanya dengan lirikan mata saja akan mengerti pasangannya
gembira, sedih, kecewa, cemburu atau marah. Laki-laki yang mampu membuat pasangannya
merasa nyaman hanya dengan senyuman. Laki-laki itu, mereka.
Wina, iray, riva, etika, rida, erna,
d’das, lia, ida dan Aku. Para wanita dengan warna pelangi. Sosok-sosok hebat
dengan kepribadian yang tidak tertebak. Tidak mudah menjadi kami, para wanita
yang selalu dipenuhi dengan kejutan. Siapapun
yang mendampingi kami kelak, aku harap adalah laki-laki yang mampu
mengimbangi. Laki-laki yang tidak akan pernah membuat warna-warna kami menjadi
abu-abu. Laki-laki yang paham bahwa mereka sedang ditantang untuk mampu
menaklukkan jiwa-jiwa yang merdeka. Laki-laki yang mengerti bahwa bagi
perempuan seperti kami, penghargaan dan kasih sayang adalah segalanya.
Wanita-wanita itu, Kami.
Dan
ya, Mereka. Kami, Kita.
Banda Atjeh, 4 Februari 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar