Selasa, 05 Februari 2013

Mereka



http://4.bp.blogspot.com/-GOpmxP5e6cE/TvTGa8vXpFI/AAAAAAAAA2M/BxwZoZfRIYA/s1600/together.jpgBestfriend is someone who helps you up when you are down, and if they can’t help you up, they lay down and listen. 

Kutipan itu kubaca di salah satu jejaring sosial dan  Aku sangat setuju. Karena Aku, pernah memiliki orang-orang seperti itu. Mereka yang selalu memaksaku bangkit dari jatuh dengan cara apapun, tanpa terkecuali. Mereka yang selalu tertawa karena ulah konyolku, atau kata-kataku yang lucu. Mereka yang selalu mendukungku seperti keluarga, mereka yang marah saat aku lalai dan berbuat salah, mereka yang dengan segala ketulusannya peduli akan hidupku.

Ada saatnya ketika Aku lelah dan merajuk. Ketika Aku benar-benar merasa tidak ingin bergerak. Dan disaat seperti itupun, mereka tetap ada. Bukan lagi untuk membujukku, bukan lagi untuk memaksaku. Tapi untuk melakukan hal yang kadang tidak kuduga. Mereka ada untuk ikut membuka sepatu, melepaskan tas, dan ikut berbaring denganku. Tidak ada kata, tidak ada pertanyaan, tidak ada intervensi. Semuanya hanya akan saling mendukung dalam diam, saling menguatkan dalam genggaman.
Ya, Aku pernah bersama mereka. Bersama orang-orang biasa dengan jiwa-jiwa luar biasa itu. Bersama orang –orang yang bukan sekedar tau, tapi mengenal setiap detail kecil dalam pribadiku. Bukan hanya sekedar detail kecil sebenarnya, tapi juga sangat tidak penting untuk diingat. Seperti tanggal bulananku, sepatu apa yang akan kupakai hari senin jika Pembina upacara’a bapak A, kira-kira besok pagi rok yang kupakai akan robek sampai semana, atau kenapa hari ini bakso yang kumakan banyak cukanya. Sekali lagi, aku pernah bersama orang-orang yang luar biasa ini.

Aku pernah memiliki mereka secara fisik. Tertawa bersama, tersedu dalam duka, saling menggoda, melakukan hal-hal gila, saling berpelukan juga menjatuhkan. Dan sekarang, satu persatu pergi. Bukan untuk menghilang, tapi karena hidup memang sudah mengatur itu. Pertemuan untuk sebuah perpisahan, kepergian untuk langkah kembali. Masing-masing kami sudah menemukan jalan menuju masa depan. Ada yang sudah menemukan jalan  kesana berserta pendampingnya, ada yang masih dengan sangat yakin mampu melakukannya sendiri, juga yang ingin didampingi tapi masih harus sabar menunggu agar segalanya menjadi pasti.
^_^
Heri, cicik, nanda, oky. Nama-nama yang tidak akan pernah ada satu orang pun mampu menghapusnya. Siapapun yang jadi istri mereka nanti, aku harap adalah wanita-wanita yang tau dan mengerti, bahwa mereka menikahi laki-laki dengan jiwa-jiwa yang besar. Laki-laki dengan rasa “menghargai perempuan” yang luar biasa. Laki-laki yang hanya dengan lirikan mata saja akan mengerti pasangannya gembira, sedih, kecewa, cemburu atau marah. Laki-laki yang mampu membuat pasangannya merasa nyaman hanya dengan senyuman. Laki-laki itu, mereka.

Wina, iray, riva, etika, rida, erna, d’das, lia, ida dan Aku. Para wanita dengan warna pelangi. Sosok-sosok hebat dengan kepribadian yang tidak tertebak. Tidak mudah menjadi kami, para wanita yang selalu dipenuhi dengan kejutan. Siapapun  yang mendampingi kami kelak, aku harap adalah laki-laki yang mampu mengimbangi. Laki-laki yang tidak akan pernah membuat warna-warna kami menjadi abu-abu. Laki-laki yang paham bahwa mereka sedang ditantang untuk mampu menaklukkan jiwa-jiwa yang merdeka. Laki-laki yang mengerti bahwa bagi perempuan seperti kami, penghargaan dan kasih sayang adalah segalanya. Wanita-wanita itu, Kami.
Dan ya, Mereka. Kami, Kita.

Banda Atjeh, 4 Februari 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar