Senin, 04 Februari 2013

The Theory of Balance


Catatan ini muncul saat saya tiba-tiba menyadari satu hal kecil, “Ketika kita bahagia, disana ada hati lain yang sedang berduka. Dan saat kita sedang terluka, itu artinya kita sedang mengimbangi kebahagiaan hati lain di suatu tempat". Semuanya, agar segala sesuatunya tetap seimbang. I named it “The Theory of Balance”. Ini bukan catatan yang berisi pemikiran hebat, hanya sebuah manifestasi dari apa yang sedang saya pikirkan.
***
http://imgs.photo4me.com/10531/257572_t.jpegSenang dan sedih itu satu paket, begitu juga baik dan buruk*. Jalannya berbarengan, seperti halnya tangis dan tawa, hitam dan putih, kiri dan kanan. Masing-masing saling mengimbangi satu sama lain, kadang menghancurkan satu sama lain, dan bergiliran mendatangi kita. Sesuatu yang buruk, jika diproses dengan kemampuan dan cara yang benar, akan menjadi sesuatu yang baik. Begitu sebaliknya, saat kebaikan yang kita peroleh tidak mampu kita rawat dengan benar, ia akan berakhir buruk, bahkan bisa saja sangat buruk. It called “balance”.

Keseimbangan itupun ada pada diri kita sebagai manusia, Human. Masing-masing kita diciptakan dengan sisi positif dan negative masing-masing juga. Ada kelebihan, dan tidak sedikit dibalik itu semua juga ada kekurangan. Nobody’s Perfect. Maka jangan pernah merasa paling hebat ketika kita sedang berada diatas, dan jangan juga merasa paling malang saat kita berada di bawah, bahkan di dasar. Ketika kita berada di puncak, artinya kita sedang berpijak pada sesuatu yang sangat besar di bawah kita. Sesuatu yang membutuhkan kita, sesuatu yang hadir demi menjaga keseimbangan yang ada. Tapi ketika kita tidak mampu melihat dan bersyukur, maka suatu saat  akan ada yang memutarbalikkan posisi kita dalam hitungan kedipan mata. What for…? Lagi-lagi, agar hidup kita seimbang.

I’m the 1st daughter in my family, dengan anggota keluarga yang masih lengkap. Mother, Father, Brothers and Sister. Tapi dibalik ke”lengkap”an yang ada, I have a little complicated relationship with my brothers. I am labil and emotional. I am easily get angry because a little stupid shit thing. I’m a talkative woman, I’m always have words that can makes their head burn and feeling guilty  to me. I’m not a good sister yet for them. Sometimes when they need me, I’m not there.
Berbalik dengan semua kenyataan itu, I met someone who has uncompletely family members. But he has something that makes me envy, it is A very beautiful relationship that he has  with his sister. He always there when she needs him, and she always there when he needs her.  Bagi saya, salah satu alasan kami saling menemukan adalah tentang ini. Tentang bagaimana kami dituntut untuk mengerti bahwa hidup harus seimbang. Kita tidak akan diberikan kelebihan pada satu sisi tanpa ada kekurangan di sisi lain. Yup, something’s like that.

Setiap kita butuh seseorang sebagai “penyeimbang “. Someone who can raises you up when u feeling down, or someone who can pulls you down when you flying so high. Mereka orang-orang yang dikirimkan untuk membuat segalanya tetap seimbang.
Setiap orang, siapapun itu, punya bagian masing-masing dalam hidup. Kita bisa jadi seseorang yang memiliki bagian yang kosong dan membutuhkan seseorang untuk menutupinya, atau bisa jadi seseorang yang memiliki sesuatu untuk menutupi kekosongan orang lain. Take, and Give. Theory of Balance.

*kalimat pertama inbox seseorang untuk Saya. Seseorang yang hadir untuk menyeimbangkan kebahagiaan dan kesedihan saya. 

 Banda Atjeh, 4 Februari 2013.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar