Senin, 17 Februari 2014

Tentang Ri.

best way to not get your heart broken is to pretend you dont have one. 

Siang itu, Aku sedang berada di lab psikologi kampusku. Sunyi sekali. Yang terdengar hanya suara gelembung air di dispenser dekat komputer. Selebihnya, hening. Hening yang memekakkan. Aku sedang berusaha konsentrasi dengan laporanku saat tiba-tiba aku dikagetkan suara hpku sendiri. Pesan dari Raiv “ini pin bb Ri”. Tanpa sadar aku menahan napas dan mematung. Aku sangat terkejut. Nama itu..

Nama itu membuat sel otakku membongkar file-file di LTM dan melayang ke sebuah dimensi waktu, dulu. Bertahun-tahun yang lalu. Saat dimana aku bersahabat dengan seseorang yang masih sangat nyata bagiku. Selalu ada. Kemudian waktu berlalu. Seseorang itu memutuskan untuk melanjutkan mimpi ke sebuah kota yang bagiku sangat jauh. Tidak akan ada lagi duduk bersama di kos ku, atau apapun yang biasanya kami lakukan bersama. Dia menghilang. Tapi yang paling membuatku tersentak, ternyata keputusannya kesana juga menjadi akhir keberadaannya. Seseorang itu akhirnya memutuskan untuk tidak lagi “bersamaku”. Ya, kami terpisah. Bukan karena jarak, tapi lebih karena keadaan. Dan seiring waktu, aku mulai bisa melupakan apapun yang pernah kami lakukan. Tepatnya, menerima kenyaataan bahwa itu hanya sebuah kejadian yang sekarang harus di tempatkan dalam sebuah kotak bernama kenangan. Seseorang itu masih nyata di dunia ini, tapi tidak lagi di duniaku. Catatan ini, hanya untuk membuatnya mengerti sesuatu, aku rindu.

Tahukah kau Ri..? rindu ini lebih dahsyat dari rindu Pungguk kepada Bulan. Lebih gila dari rindu Laila kepada sang Majnun. Rindu ini lebih menyakitkan Ri. Aku tak marah karena kau ingkar janji. Pun tak benci karena kau lebih memilih untuk berjalan dengan seseorang yang sama sekali baru dalam hidupmu. Aku cukup sadar bahwa dunia terus berjalan, tak peduli aku mau menerimanya atau tidak. Setiap orang berhak memilih bukan..?. Aku hanya bingung, letak salahku dimana...? itu saja. Berikan jawaban dan aku akan pergi. Tak kan lagi mengingat apa yang sudah pernah kita lalui. Tak lagi membuka kotak kenangan lalu sakit karena melihatmu tersenyum dari dalam sana. Takkan lagi Ri. Aku hanya ingin jawaban itu, dan aku tidak akan singgah lagi, bahkan untuk sekedar mengucapkan Selamat Pagi.

Ini tentangmu, Ri.



Banda Aceh, 16 Februari, 2014.
-cha-


Dia, perempuan-ku

if you want something said, ask a man ; if you want something done, ask a woman.
 -Margaret Thatcher-

Aku mengenal seorang perempuan. Perempuan yang ditangannya, sesuatu akan selalu menjadi lebih baik, entah bagaimana. Usianya kurang lebih 48 tahun. Dia perempuan biasa secara fisik, tapi Aku tau dibalik ke-biasa-an itu beliau luar biasa. Seorang Ibu Rumah Tangga, dan Aku menyebutnya Ibu Rumah Tangga “berkelas” (hahaha). Beliau sangat suka membaca, melahap bacaan apa saja yang menurutnya bagus, dan terkadang anak-anaknya sering ketinggalan informasi dibandingkan beliau. Ah, beliau juga suka menulis (juga suaminya). Puisi, dan tulisannya yang lain bagus-bagus. Aku suka membacanya, tapi beliau selalu menyembunyikannya. Aku mengenal musik ‘western’ dari beliau. Lagu favoritnya..? Boulevard-nya Dan Bird dan If Tomorrow-nya Ronan Keating. Juga Hello-nya Lionel Richie, terus juga...ah banyak lah.

Perempuan ini sosok yang paling tangguh yang pernah ku kenal. Cut Nyak Dhien sama RA.Kartini mah lewaat. Tentang keberadaannya..? seperti kusebutkan diatas, tidak pernah tidak ada. Sepanjang yang bisa kuingat, Aku tidak pernah melihat anak-anaknya pulang dari sekolah, les, atau dari mananpun tanpa menemukan beliau dirumah. Beliau selalu ada. Beliau ada saat mereka pergi, dan mereka akan menemukan  beliau juga saat pulang. Ia selalu ada untuk keluarga. Salah satu kebiasaannya yang tidak pernah hilang sampai sekarang adalah masuk ke kamar anak-anaknya setiap tengah malam, dan mengingat baju apa yang dipakai suaminya ketika keluar dari rumah. Masakannya..? jangan ditanya pembaca. Berat badanku selalu bertambah setiap aku berkunjung ke rumah  beliau.

Ngomong-ngomong tentang “berkelas”, jika dipandang sebagai seorang Ibu Rumah Tangga, beliau juga sangat pintar, dan pintar masuk dalam kategori “berkelas” bukan..? Berbicara dengannya selalu menyenangkan. Kadang kami berdiskusi seperti teman sekolah, bercanda seperti sahabat, kadang juga ribut seperti kakak adik.  Dan yang paling menjadi sesi favoritku adalah ketika beliau sedang berbicara pelajaran tentang hidup. Seperti saat beliau sedang berbicara di telepon dengan anak perempuannya.

Saat sedang berdiskusi tentang ‘masa depan’ anak gadisnya, tiba-tiba beliau bertanya “Kakak masih ingat gak waktu kita pindah ke Jantho? Waktu itu Kakak masih sendiri, belum ada adek-adek.  Kalau udah malam itu cuma Kakak yang tidur di kasur. Mamak sama bapak tidurnya di atas kardus, gaji bapak waktu itu masih 250 ribu sebulan”. Anak perempuannya menjawab sambil tertawa kecil “Ya gak ingat lah Mak. Kakak kan waktu di Jantho masih 3 tahun, mana ingat. Yang ingat tu waktu kita tinggal d ulee kareng loh Mak, yang tidur d atas pintu, ingat gak Mak?”. Beliau tertawa, memamerkan giginya dan menjawab “Begitulah hidup. Hari-hari kaya gitu kalau dilalui ya senang-senang aja. Yang penting dinikmati. Buktinya kita tetap bahagia2 aja sampe sekarang, Kamu tetap punya adek”. Lagi-lagi anak perempuannya tertawa dan menjawab “Iya ya Mak, lucu kalau bayangin waktu kami masih kecil”, jawabnya. Diam sejenak, lalu tiba-tiba  si ibu bicara,  “Kakak nanti juga begitu, kalau udah nikah. Hidup sakit itu jangan jadikan beban, semuanya dijalani dengan wajar aja, toh bahagia juga. Jadi suami istri bahagia itu bukan tentang uangnya nak, tapi tentang bagaimana satu sama lain bersyukur, saling menghargai, selalu ada dan menguatkan”. Anak perempuan itu tersenyum, ada doa terucap di hatinya. Insya allah mak, doakan anakmu ini bisa jadi perempuan tangguh sepertimu.

Ya, begitulah beliau. Selalu ada nasehat di setiap ucapannya, ceritanya, bahkan candaannya. Aku sangat ingin menjadi seperti beliau. Seperti perempuan ini, yang selalu ada untuk keluarganya, tanpa batas waktu dan keadaan. Aku ingin seperti dia. Perempuan yang sudah kukenal selama hampir 25 tahun. Perempuan yang selalu bahagia. Perempuan yang dalam hidupnya, disadari atau tidak sering dibuat kesulitan olehku. Dan entah bagaimana, dia tidak pernah mengeluh. Baik tentang Aku, maupun tentang hidup itu. Ya, perempuan itu. 
Perempuan yang kupanggil Ibu.


Banda Aceh, 16 Februari 2014

-cha-

Minggu, 16 Februari 2014

L o p e

Sometimes, You dont love someone for their looks, their clothes or their fancy car. You love them because they can sing a song only your heart can understand.

Rasanya tidak perlu ada syarat khusus/mutlak secara fisik untuk mencintai seseorang. Bahasa kerennya kurang lebih seperti itu. Karena sampai sekarang, selama aku hidup, aku belum pernah melihat seseorang yang masih tetap mempesona sampai tua secara fisik. Yang tertinggal pastilah hanya kharismanya. Tanpa pesona fisik pun, kakekku tetap dengan mesra memanggil nenekku dengan panggilan sayangnya. Dan sebaliknya nenek masih dengan setia mencium keningnya setiap kakekku keluar rumah, bahkan hanya untuk pergi ke warung kopi. Aku gila melihat mereka, jadi (bagiku) tidak ada cinta secara fisik.

Well, secara teori penampilan fisik menentukan kesan pertama kita terhadap seseorang. Sebagian besar orang setuju dengan itu. Tapi apa itu bisa menjamin suatu saat kita pasti akan mencintainya..? Bermimpi hidup dengannya..? Ingin dia selalu ada dekat dengan kita..?. Apa kebaikan fisik juga yang bisa menjamin kita menuangkan semua cinta kepadanya, hingga kita hanya ingin menyesap kopi pagi buatannya..?. Tidak kan..?
Kita tidak bisa memaksakan diri untuk mencintai seseorang, sama seperti kita tidak bisa memaksakan diri membenci orang yang kita cintai bukan..? Lalu kenapa harus memaksakan fisik sebagai syarat utama untuk bisa jatuh cinta..?. Bukankah cinta juga bisa datang begitu saja..? atau karena terbiasa..? Terbiasa menjadikannya teman bicara, terbiasa meilhat dia tertawa, terbiasa dibuat jengkel olehnya, dan kisah ‘terbiasa’ lainnya. Jadi fisik itu bagiku tak ada andil dalam cinta.
---
Seseorang pernah berkata padaku, bahwa ia tidak mengerti kenapa pasangannya bisa mencintai seseorang seperti dirinya, dan dia tidak pernah ingin memaksa pasangan untuk terus mencintainya. Terus terang saja, waktu itu aku sendiri juga tidak tahu harus menjawab apa. Tapi kalau suatu saat dia datang (lagi) dan aku harus menjawabnya, kurasa aku akan berkata “dia mencintaimu karena karena itu kamu, dan karena cinta, terjadi begitu saja”.

Banda Aceh, 16 Februari 2014






-cha-

Senin, 10 Februari 2014

Dont Matter, Dont Mind


Waktu itu jam 6 sore. Aku sedang duduk di sudut beranda atas sebuah kafe dan sudah menghabiskan waktu berjam-jam sambil menikmati bergelas-gelas blended cappucino. Ini adalah meja favoritku. Beranda atas, paling sudut. Tempat paling strategis untuk menghabiskan waktu kosong setelah seharian penuh dikejar-kejar oleh schedule, sambil menatap orang yang lalu lalang. Disini, dengan tanpa rasa bersalah aku akan menobatkan diri menjadi malaikat gadungan yang berhak menebak apa yang orang-orang di jalan itu rasakan, atau apa yang sudah mereka lalui hari ini sampai-sampai punya muka kusut begitu dan begini.

Kafe ini letaknya di samping sebuah hotel berbintang dengan suasana yang lumayan cozy, terlebih lagi mushalanya. Nuansa hijau di mushala mungil kafe ini membuatku nyaman duduk berlama-lama seusai shalat dan (lagi-lagi) menatap ke jalanan melalui dinding kaca lebarnya.  Menghabiskan waktu sore di sudut teras kafe ini sepertinya akan jadi kegiatan sore rutinku. Ya, setelah sebelumnya aku memutuskan untuk “menjadi pribadi yang egois” tahun ini. 

Ketika sedang asik “menerawang” kehidupan orang-orang di bawah sana, secara tidak sengaja aku mendengar “pertengkaran kecil” pasangan di sebelah mejaku. Intinya, si perempuan mau menjalani sebuah hubungan dengan “cara yang baik”, ga mau pacaran lagi. Sedangkan si laki-lakinya dengan keras membantah, dan bilang “itu pemikiran aneh, dan aku gabisa”. Singkat cerita, mereka putus (di kafe ini sih) dengan masing-masing mempertahankan sesuatu yang mereka anggap benar. Setelah mereka pergi, Aku senyum-senyum sendiri dan ingat salah satu kutipan dari Dr. Seuss yang sekarang menjadi kutipan favoritku, “Be who you are and say what you feel, coz those people who mind dont matter, and those who matter dont mind”. 

Begitulah.. kadang kita harus berani dan siap hidup diatas ketidaksukaan orang-orang, hanya karena ingin menjadi diri kita sendiri, dengan segala prinsip dan cara kita “memaknai” hidup. Orang-orang yang acapkali berlawanan dengan apa  yang kita pikirkan, inginkan, harapkan. Orang-orang yang lebih memilih untuk berada di posisi sebagai “musuh” dalam hal-hal tertentu. Mereka yang terkadang dengan mati-matian akan berusaha melumpuhkan  sesuatu yang kita sebut “prinsip”. Tapi inilah hidup. Kita dituntut untuk bisa seperti itu. Seperti perempuan yang lebih memilih untukmeninggalkan “teman lelakinya” dan tetap hidup dengan prinsipnya. Yaa, harusnya kita tetap bisa menjalani hidup dengan dikelilingi orang-orang yang tidak suka, karena those people who mind dont matter, and those who matter dont mind

                                                                             -cha-