Senin, 10 Februari 2014

Dont Matter, Dont Mind


Waktu itu jam 6 sore. Aku sedang duduk di sudut beranda atas sebuah kafe dan sudah menghabiskan waktu berjam-jam sambil menikmati bergelas-gelas blended cappucino. Ini adalah meja favoritku. Beranda atas, paling sudut. Tempat paling strategis untuk menghabiskan waktu kosong setelah seharian penuh dikejar-kejar oleh schedule, sambil menatap orang yang lalu lalang. Disini, dengan tanpa rasa bersalah aku akan menobatkan diri menjadi malaikat gadungan yang berhak menebak apa yang orang-orang di jalan itu rasakan, atau apa yang sudah mereka lalui hari ini sampai-sampai punya muka kusut begitu dan begini.

Kafe ini letaknya di samping sebuah hotel berbintang dengan suasana yang lumayan cozy, terlebih lagi mushalanya. Nuansa hijau di mushala mungil kafe ini membuatku nyaman duduk berlama-lama seusai shalat dan (lagi-lagi) menatap ke jalanan melalui dinding kaca lebarnya.  Menghabiskan waktu sore di sudut teras kafe ini sepertinya akan jadi kegiatan sore rutinku. Ya, setelah sebelumnya aku memutuskan untuk “menjadi pribadi yang egois” tahun ini. 

Ketika sedang asik “menerawang” kehidupan orang-orang di bawah sana, secara tidak sengaja aku mendengar “pertengkaran kecil” pasangan di sebelah mejaku. Intinya, si perempuan mau menjalani sebuah hubungan dengan “cara yang baik”, ga mau pacaran lagi. Sedangkan si laki-lakinya dengan keras membantah, dan bilang “itu pemikiran aneh, dan aku gabisa”. Singkat cerita, mereka putus (di kafe ini sih) dengan masing-masing mempertahankan sesuatu yang mereka anggap benar. Setelah mereka pergi, Aku senyum-senyum sendiri dan ingat salah satu kutipan dari Dr. Seuss yang sekarang menjadi kutipan favoritku, “Be who you are and say what you feel, coz those people who mind dont matter, and those who matter dont mind”. 

Begitulah.. kadang kita harus berani dan siap hidup diatas ketidaksukaan orang-orang, hanya karena ingin menjadi diri kita sendiri, dengan segala prinsip dan cara kita “memaknai” hidup. Orang-orang yang acapkali berlawanan dengan apa  yang kita pikirkan, inginkan, harapkan. Orang-orang yang lebih memilih untuk berada di posisi sebagai “musuh” dalam hal-hal tertentu. Mereka yang terkadang dengan mati-matian akan berusaha melumpuhkan  sesuatu yang kita sebut “prinsip”. Tapi inilah hidup. Kita dituntut untuk bisa seperti itu. Seperti perempuan yang lebih memilih untukmeninggalkan “teman lelakinya” dan tetap hidup dengan prinsipnya. Yaa, harusnya kita tetap bisa menjalani hidup dengan dikelilingi orang-orang yang tidak suka, karena those people who mind dont matter, and those who matter dont mind

                                                                             -cha-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar