if you want something said, ask a man ; if you want something done, ask a woman.
-Margaret Thatcher-
Perempuan ini sosok yang paling
tangguh yang pernah ku kenal. Cut Nyak Dhien sama RA.Kartini mah lewaat. Tentang
keberadaannya..? seperti kusebutkan diatas, tidak pernah tidak ada. Sepanjang
yang bisa kuingat, Aku tidak pernah melihat anak-anaknya pulang dari sekolah,
les, atau dari mananpun tanpa menemukan beliau dirumah. Beliau selalu ada. Beliau
ada saat mereka pergi, dan mereka akan menemukan beliau juga saat pulang. Ia selalu ada untuk
keluarga. Salah satu kebiasaannya yang tidak pernah hilang sampai sekarang
adalah masuk ke kamar anak-anaknya setiap tengah malam, dan mengingat baju apa
yang dipakai suaminya ketika keluar dari rumah. Masakannya..? jangan ditanya
pembaca. Berat badanku selalu bertambah setiap aku berkunjung ke rumah beliau.
Ngomong-ngomong tentang “berkelas”,
jika dipandang sebagai seorang Ibu Rumah Tangga, beliau juga sangat pintar, dan
pintar masuk dalam kategori “berkelas” bukan..? Berbicara dengannya selalu menyenangkan.
Kadang kami berdiskusi seperti teman sekolah, bercanda seperti sahabat, kadang
juga ribut seperti kakak adik. Dan yang
paling menjadi sesi favoritku adalah ketika beliau sedang berbicara pelajaran
tentang hidup. Seperti saat beliau sedang berbicara di telepon dengan anak
perempuannya.
Saat sedang berdiskusi tentang ‘masa
depan’ anak gadisnya, tiba-tiba beliau bertanya “Kakak masih ingat gak waktu
kita pindah ke Jantho? Waktu itu Kakak masih sendiri, belum ada adek-adek. Kalau udah malam itu cuma Kakak yang tidur di
kasur. Mamak sama bapak tidurnya di atas kardus, gaji bapak waktu itu masih 250
ribu sebulan”. Anak perempuannya menjawab sambil tertawa kecil “Ya gak ingat lah
Mak. Kakak kan waktu di Jantho masih 3 tahun, mana ingat. Yang ingat tu waktu
kita tinggal d ulee kareng loh Mak, yang tidur d atas pintu, ingat gak Mak?”. Beliau
tertawa, memamerkan giginya dan menjawab “Begitulah hidup. Hari-hari kaya gitu
kalau dilalui ya senang-senang aja. Yang penting dinikmati. Buktinya kita tetap
bahagia2 aja sampe sekarang, Kamu tetap punya adek”. Lagi-lagi anak
perempuannya tertawa dan menjawab “Iya ya Mak, lucu kalau bayangin waktu kami
masih kecil”, jawabnya. Diam sejenak, lalu tiba-tiba si ibu bicara, “Kakak nanti juga begitu, kalau udah nikah.
Hidup sakit itu jangan jadikan beban, semuanya dijalani dengan wajar aja, toh
bahagia juga. Jadi suami istri bahagia itu bukan tentang uangnya nak, tapi tentang
bagaimana satu sama lain bersyukur, saling menghargai, selalu ada dan
menguatkan”. Anak perempuan itu tersenyum, ada doa terucap di hatinya. Insya allah mak, doakan anakmu ini bisa jadi
perempuan tangguh sepertimu.
Ya, begitulah beliau. Selalu ada nasehat di setiap ucapannya, ceritanya, bahkan
candaannya. Aku sangat ingin menjadi seperti beliau. Seperti perempuan ini,
yang selalu ada untuk keluarganya, tanpa batas waktu dan keadaan. Aku ingin
seperti dia. Perempuan yang sudah kukenal selama hampir 25 tahun. Perempuan
yang selalu bahagia. Perempuan yang dalam hidupnya, disadari atau tidak sering
dibuat kesulitan olehku. Dan entah bagaimana, dia tidak pernah mengeluh. Baik
tentang Aku, maupun tentang hidup itu. Ya, perempuan itu.
Perempuan yang
kupanggil Ibu.
Banda Aceh, 16 Februari 2014
-cha-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar