Senin, 17 Februari 2014

Dia, perempuan-ku

if you want something said, ask a man ; if you want something done, ask a woman.
 -Margaret Thatcher-

Aku mengenal seorang perempuan. Perempuan yang ditangannya, sesuatu akan selalu menjadi lebih baik, entah bagaimana. Usianya kurang lebih 48 tahun. Dia perempuan biasa secara fisik, tapi Aku tau dibalik ke-biasa-an itu beliau luar biasa. Seorang Ibu Rumah Tangga, dan Aku menyebutnya Ibu Rumah Tangga “berkelas” (hahaha). Beliau sangat suka membaca, melahap bacaan apa saja yang menurutnya bagus, dan terkadang anak-anaknya sering ketinggalan informasi dibandingkan beliau. Ah, beliau juga suka menulis (juga suaminya). Puisi, dan tulisannya yang lain bagus-bagus. Aku suka membacanya, tapi beliau selalu menyembunyikannya. Aku mengenal musik ‘western’ dari beliau. Lagu favoritnya..? Boulevard-nya Dan Bird dan If Tomorrow-nya Ronan Keating. Juga Hello-nya Lionel Richie, terus juga...ah banyak lah.

Perempuan ini sosok yang paling tangguh yang pernah ku kenal. Cut Nyak Dhien sama RA.Kartini mah lewaat. Tentang keberadaannya..? seperti kusebutkan diatas, tidak pernah tidak ada. Sepanjang yang bisa kuingat, Aku tidak pernah melihat anak-anaknya pulang dari sekolah, les, atau dari mananpun tanpa menemukan beliau dirumah. Beliau selalu ada. Beliau ada saat mereka pergi, dan mereka akan menemukan  beliau juga saat pulang. Ia selalu ada untuk keluarga. Salah satu kebiasaannya yang tidak pernah hilang sampai sekarang adalah masuk ke kamar anak-anaknya setiap tengah malam, dan mengingat baju apa yang dipakai suaminya ketika keluar dari rumah. Masakannya..? jangan ditanya pembaca. Berat badanku selalu bertambah setiap aku berkunjung ke rumah  beliau.

Ngomong-ngomong tentang “berkelas”, jika dipandang sebagai seorang Ibu Rumah Tangga, beliau juga sangat pintar, dan pintar masuk dalam kategori “berkelas” bukan..? Berbicara dengannya selalu menyenangkan. Kadang kami berdiskusi seperti teman sekolah, bercanda seperti sahabat, kadang juga ribut seperti kakak adik.  Dan yang paling menjadi sesi favoritku adalah ketika beliau sedang berbicara pelajaran tentang hidup. Seperti saat beliau sedang berbicara di telepon dengan anak perempuannya.

Saat sedang berdiskusi tentang ‘masa depan’ anak gadisnya, tiba-tiba beliau bertanya “Kakak masih ingat gak waktu kita pindah ke Jantho? Waktu itu Kakak masih sendiri, belum ada adek-adek.  Kalau udah malam itu cuma Kakak yang tidur di kasur. Mamak sama bapak tidurnya di atas kardus, gaji bapak waktu itu masih 250 ribu sebulan”. Anak perempuannya menjawab sambil tertawa kecil “Ya gak ingat lah Mak. Kakak kan waktu di Jantho masih 3 tahun, mana ingat. Yang ingat tu waktu kita tinggal d ulee kareng loh Mak, yang tidur d atas pintu, ingat gak Mak?”. Beliau tertawa, memamerkan giginya dan menjawab “Begitulah hidup. Hari-hari kaya gitu kalau dilalui ya senang-senang aja. Yang penting dinikmati. Buktinya kita tetap bahagia2 aja sampe sekarang, Kamu tetap punya adek”. Lagi-lagi anak perempuannya tertawa dan menjawab “Iya ya Mak, lucu kalau bayangin waktu kami masih kecil”, jawabnya. Diam sejenak, lalu tiba-tiba  si ibu bicara,  “Kakak nanti juga begitu, kalau udah nikah. Hidup sakit itu jangan jadikan beban, semuanya dijalani dengan wajar aja, toh bahagia juga. Jadi suami istri bahagia itu bukan tentang uangnya nak, tapi tentang bagaimana satu sama lain bersyukur, saling menghargai, selalu ada dan menguatkan”. Anak perempuan itu tersenyum, ada doa terucap di hatinya. Insya allah mak, doakan anakmu ini bisa jadi perempuan tangguh sepertimu.

Ya, begitulah beliau. Selalu ada nasehat di setiap ucapannya, ceritanya, bahkan candaannya. Aku sangat ingin menjadi seperti beliau. Seperti perempuan ini, yang selalu ada untuk keluarganya, tanpa batas waktu dan keadaan. Aku ingin seperti dia. Perempuan yang sudah kukenal selama hampir 25 tahun. Perempuan yang selalu bahagia. Perempuan yang dalam hidupnya, disadari atau tidak sering dibuat kesulitan olehku. Dan entah bagaimana, dia tidak pernah mengeluh. Baik tentang Aku, maupun tentang hidup itu. Ya, perempuan itu. 
Perempuan yang kupanggil Ibu.


Banda Aceh, 16 Februari 2014

-cha-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar