Sebuah catatan mengenai perjalanan yang
sarat makna kebersamaan dan sejarah.
Sebenarnya, ini kali kedua Saya
ke tempat ini. Namun tetap saja perjalanan kali ini membuat Saya memutuskan “kabur”
dari sebuah tempat lain. Hari ini, dalam rangka jelajah budaya kelas menulis pertama setelah
Inaugurasi, kami (red.FLPers) melakukan kunjungan ke sebuah situs sejarah dan
budaya di Banda Aceh. Tempat ini terletak di sudut jalan, berhadapan dengan
Kherkof dan berdampingan dengan Taman Budaya. Taman Sari Gunongan, begitu
tempat ini diberi nama. Konon, taman ini adalah salah satu saksi cinta Sultan
Iskandar Muda kepada Sang Permaisuri, Putri Pahang, atau di Aceh disebut Putroe
Phang. Di taman ini kami melihat, memasuki dan sedikit mempelajari
peninggalan-peninggalan Kerajaan Sultan Iskandar Muda yang masih tersisa.
Tempat yang pertama kali kami datangi setelah menginjakkan kaki di taman ini adalah sebuah bangunan yang disebut Gunongan. Memasuki bangunan ini harus dengan sedikit merunduk (bagi yang tinggi) karena pintunya yang kecil dan rendah. Setelah sampai di atas, angin yang berhembus dan pemandangan yang menggoda mata membuat para FLP-ers ini secara spontan mengeluarkan gadget masing-masing dan mulai terdengar suara “foto yuk, foto yuk.!”. Ya, begitulah adanya. Baiklah, kembali ke Gunongan. Gunongan adalah tempat putri bermain dan mengeringkan diri setelah mandi. Tempat ini juga dijadikan sebagai ruang untuk putri berganti pakaian, karena konon di dalamnya terdapat terowongan bawah tanah yang langsung menghubungkan Gunongan dengan Pinto Khop. Ada satu cerita lucu yang beredar di masyarakat mengenai bangunan ini, yaitu mengenai proses pembangunan Gunongan menggunakan telur ayam. Pada kenyataannya, menurut salah seorang pemandu di tempat ini, cerita tersebut tidaklah benar. Telur yang bertumpuk itu digunakan sebagai makanan untuk pekerja, bukan sebagai bahan pembuat Gunongan. Lalu manakah cerita yang benar..? Wallahua’alam bi shawab.
Gunongan
Puas berjemur ria, menikmati
hembusan angin dan berfoto, kami pun turun dan melihat Leusong, sebuah bangunan
kecil berbentuk bulat yang menurut cerita merupakan tempat mandi putri dan
dayang-dayang. Pada bagian atas Leusong ini terdapat sebuah lubang yang menjadi tempat air. Air dalam Leusong ini berasal langsung dari Krueng Daroy yang
sekarang dipisahkan oleh tembok tinggi dengan taman ini.
Leusong
Setelah melihat-lihat
sebentar dan kali ini pergi tanpa foto, kami pun melanjutkan perjalanan ke
sebuah bangunan berbentuk persegi empat yang disebut Kandang Ghairah. Kandang Ghairah
atau biasa di sebut Kandang saja, merupakan tempat dimakamkannya Sultan
Iskandar Tsani (menantu Sultan Iskandar Muda) yang sebelumnya digunakan sebagai
tempat jamuan untuk makan siang Raja, Putroe, orang-orang istana serta rakyat. Sebelumnya,
tempat ini memiliki atap dan atap tersebut dipercaya telah dirubuhkan oleh
orang-orang Belanda, dan menurut sejarah tempat ini disebut Kandang karena
bentuknya yang persegi empat.
Kandang
Menutup wisata
kami di Kandang dengan mengambil beberapa gambar, kami pun menuju sebuah
bangunan lain yang terlihat seperti Kantor atau Museum. Benar saja, setelah
kami berada di dalamnya, disana terdapat beberapa foto dan benda peninggalan sejarah dan budaya
Aceh. Benda-benda tersebut diantaranya adalah Puan, Rapa’i, Batu Nisan, senjata
seperti Tombak, tempat perhiasan dan beberapa benda lainnya. Setelah melihat
dan mengambil beberapa gambar (lagi) di tempat ini, kami pun berkumpul dan
kembali ke Taman Putroe Phang untuk melanjutkan kelas menulis. Seperti
judulnya, di kelas menulis ini tentu saja kami diminta untuk menulis dalam
bentuk apa saja dan kali ini mengenai kegiatan yang telah kami lakukan. Kami
hanya diberi waktu kurang lebih 30 menit, dan alarmnya adalah azan Ashar.
Setelah duduk menjauh dan melakukan pertapaan yang tidak penting, akhirnya Saya
memutuskan untuk menulis tentang perjalanan hari ini dan Taman Sari Gunongan.
Sebuah perjalanan sarat makna yang membuat tulisan Saya sekarang mau tidak mau
bertengger di blog dan siap-siap di bombardir.
***
Perjalanan kali ini bagi Saya
sangat luar biasa. Bukan hanya tentang sejarah yang semakin menambah
pengetahuan Saya, tapi juga tentang kebersamaan, semangat dan keceriaan FLP-ers
yang tiada tandingannya. Karena seperti yang sering dikatakan oleh kebanyakan
orang, bahwa sejatinya keindahan suatu tempat tidak hanya terletak pada
tempatnya, namun pada kebersamaan yang dirasakan orang-orang di dalamnya. Semoga
ke depan akan ada perjalanan lain dengan makna yang lebih melimpah ruah dan
kebersamaan yang tetap menyala.
Banda Aceh, 27 April 2014
-cha-



Sejarahku.. sebentar ya, aku perlu banyak membaca :D
BalasHapushahaha.. baiklah. aku menunggumu. @lah
BalasHapus